Gambang
Kromong
Sebutan Gambang Kromong di
ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan
gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu
atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat
dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh ’pencon’). Orkes Gambang
Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur
Cina. Secara fisik unsur Cina tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan,
Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong,
gendang, kecrek dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan kedua unsur
kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya. Disamping
lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Persi,
Balo-balo, Lenggang-lenggang Kangkung, Onde-onde, Gelatik Ngunguk dan
sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Cina, baik nama lagu,
alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Citnosa,
Macuntay, Gutaypan dan sebagainya.
Orkes Gambang yang semula
digemari oleh kaum peranakan Cina saja, lama-kelamaan di gemari pula oleh
golongan pribumi, karena berlangsugnya proses pembauran. Bila pada masa lalu
popularitas orkes Gambang Kromong umumnya hanya terbatas dalam lingkungan
masyarakat keturunan Cina dan masyarakat yang langsung atau tidak langsung
banyak menyerap pengaruh kebudayaannya, pada perkembangan kemudian,
penggemarnya semakin luas, lebih-lebih pada tahun tujuh puluhan. Bebagai faktor
yang menyebabkan diantaranya karena mulai banyak seniman musik pop yang ikut
terjun berkecimpung didalamnya seperti Benyamin S pada masa hidupnya, Ida
Royani, Lilis Suryani, Herlina Effendi dan lain-lain.
Gambang Kromong merupakan musik
Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di
wilayah DKI Jakarta sendiri maupun didaerah sekitarnya, lebih banyak penduduk
keturunan Cina dalam masyarakat Betawi setempat, lebih banyak pula terdapat
grup-grup orkes Gambang Kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat misalnya,
lebih banyak jumlah grup Gambang Kromong dibandingkan di Jakarta Selatan dan
Jakarta Timur. Dewasa ini terdapat istilah “Gambang Kromong asli” dan “Gambang
Kromong kombinasi”.
|
|
Sebagaimana tampak pada
namanya “Gambang Kromong kombinasi”, ialah orkes Gambang Kromong yang
alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern
yang kadang-kadang elektronis, seperti gitar melodis, bass, gitar ,organ,
saxopone, drum dan sebagainya. Disini berlangsung perubahan dari laras
pentatonik menjadi diatonis tanpa terasa mengganggu. |
Dengan penambahan alat musik
itu warna suara gambang kromong masih tetap terdengar, serta masuknya lagu-lagu
pop berlangsung secara wajar, tidak dipaksakan. Terutama bagi generasi muda
tampaknya gambang kromong kombinasi lebih komunikatif, sekalipun kadang-kadang
ada kecenderungan tersisihnya suara alat-alat gambang kromong asli oleh alat
musik elektronis yang semakin dominan.
Rombongan-rombongan gambang keromong
asli pada umumnya dimiliki dan dipimpin oleh golongan pribumi yang ekonomi
lemah, seperti rombongan “Setia Hati” pimpinan Amsar di Bendungan Jago,
rombongan “Putra Cijantung” pimpinan Marta (dahulu dipimpin oleh Nyaat yang
sekarang telah meninggal), rombongan “Garuda Putih” pimpinan Samad Modo di
Pekayon, Gandaria. Sedang gambang kromong kombinasi pada umumnya dimiliki oleh
golongan yang ekonomi relatif`` kuat, seperti rombongan “Naga Mas” pimpinan Bhu
Thian Hay (almarhum), “Naga mustika” pimpinan Suryahanda, “Selendang delima”
pimpinan Liem Thian Po dan sebagainya.
(Ikhtisar Kesenian Betawi, Dinas Kebudayaan DanPermuseuman Propinsi DKI Jakarta)