Pameran Tunggal Senirupa

BRAIN • E

EVOLUSI OTAK, EVOLUSI MANUSIA

Karya : Deden FG

Galeri Cipta III

Pembukaan Pameran tanggal 3 November 2009

4 – 12 November 2009

Pkl 10.00 wib s/d 21.00 wib

 

Dikatakan bahwa dalam proses evolusi manusia, evolusi otak adalah salah satu evolusi  yang paling penting.Charles Darwin menyatakan bahwa evolusi adalah sebuah proses seleksi alam, dimana yang paling bisa beradaptasi dengan lingkungannyalah yang akan mampu bertahan.

 

Mahluk hidup, tak terkecuali manusia,mengalami serangkaian proses penyesuaian fungsi tubuh untuk menghadapi alam. Darwin menggemparkan dunia saat ia menuliskan dalam The Origin of Species pada 1859, bahwa cikal bakal manusia adalah primata-primata

alias kera.

 

Menjadi menarik kemudian karena para pendukung Darwin semisal Charles Lyell dan Alfred Russel Wallace menyatakan bahwa perkembangan mental, dan kecerdasan manusia tidak sepenuhnya dapat dijelaskan dengan teori seleksi alam ala Darwin tersebut. Dibanding mahluk lainnya, otak manusia adalah otak terbesar ditilik dari perbandingan ukuran tubuh dan besar otaknya. Manusia memiliki kesadaran, perasaan sekaligus moralitas, sesuatu yang tak dimiliki mahluk lainnya.

 

Bongkahan kenyal alias otak, serta tulang belakang yang merupakan perpanjangannya, dapat dikatakan sebagai inti fungsi keseluruhan seorang manusia. Otak sebagai organ tervital adalah saripati kemanusiaan sekaligus sumber seluruh misteri kehidupan manusia.

 

Berbagai teori tentang evolusi manusia, membuktikan perkembangan manusia secara sosial adalah juga cerminan tahapan bertumbuhnya kecerdasan manusia. Proses evolusi manusia dari mahluk purba menjadi mahluk beradab, adalah pula hasil evolusi otak.

 

Dengan otak pula, manusia kemudian mencipta sains. Ilmu yang mereka kembangkan untuk terus menerus mempertinggi kualitas kehidupan. Mengatasialam seolah menjadi kunci untuk mencapai kualitas hidup tertinggi. Dan proses ini tak pernah berhenti, adalah obsesi manusia untuk dapat menguasai seluruh isi jagad raya ini.

 

Untuk membuat hidup semakin nyaman, manusia kemudian mencipta mesin-mesin. Komputer, robot, yang kemudian secara perlahan mengambil alih tugas-tugas yang biasa dilakukan manusia.

 

Apakah tahap selanjutnya dari evolusi manusia ?Akankah tahap perkembangan manusia selanjutnya adalah berpadunya manusia denganmesin-mesin ciptaannya sendiri? Apakah yang kemudian tersisa dari kemanusiaan?

 

Pameran ini diselenggarakan oleh PKJ-Taman Ismail Marzuki

 

 

Pidato Kebudayaan

Memperkuat Masyarakat Sipil dengan Kesenian, untuk Mengelola Negara dan Pasar Lebih Baik

Oleh Ignas Kleden

Graha Bhakti Budaya

10 November 2009

Pkl. 19.00 wib

 

Perdebatan tentang neoliberalisme dalam dunia politik kita menjelang pemilihan presiden dan mungkin masih hingga sekarang, banyak mengandung kecurigaan dan mungkin kesalahpahaman yang tidak jelas benar sebab musababnya. Tapi hal itu hanyakah salah satu saja dari sekian banyak peristiwa yang sebenarnya meruncing pada pertanyaan mendasar; seberapa besar peran negara yang ideal dalam mengatur pasar, atau seberapa jauh pasar dibiarkan mengatur dirinya sendiri ?

 
Pidato Kebudayaan 2009 mengangkat tema Memperkuat masyarakat sipil dengan kesenian, untuk mengelola negara dan pasar lebih baik’, diharapkan dapat member pencerahan atas pertanyaan-pertanyaan diatas.

 

 

Pidato Kebudayaan merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) memperingati hari ulang tahun PKJ – TIM pada setiap tanggal 10 November.  Acara ini juga akan dimeriahkan oleh Gilang ramadhan dan NERA

 

The 2009 Lecture on Culture by Dr. Ignas Kleden

Strengthen the Civil Society with Arts, for a Better Management of the State and the Market

Graha Bhakti Budaya

10 November 2009

7 p.m.

 

Debates on neo-liberalism in the political field before the presidential elections, and probably up until now, had contained suspicion and misunderstanding. The root of the problems are not clear. However, the essence of the problem could be founded through the answer on the basic question of how far is the ideal role of the state in controlling the market, or how far should we leave the market regulates itself?

 

 

The annual Lecture On Culture for this year will elaborate on the theme of “Memperkuat masyarakat sipil dengan kesenian, untuk mengelola negara dan pasar lebih baik,” or to strengthen the civil society with arts, for a better management of the state and the market. It is hoped that questions surrounding the above-mentioned topic would find enlightening perspectives.

 

The lecture is an annual event organized by the Jakarta Arts Council (DKJ) in cooperation with the Jakarta Arts Centre - Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), to mark the anniversary of PKJ-TIM on 10 November.

 

 

 

Pentas Teater dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya Rendra

BUNGA SEMERAH DARAH

Karya : Rendra

Produksi Teater Tanah Air

10 & 11 November 2009

Pkl. 20.00 wib

HTM : Rp. 50.000,-

 

Hal-hal semacam inilah yang akan kutulis. Biar mereka tahu keadaan rakyat rendah senyata-nyatanya, biar mereka tahu apa sebenarnya yang berada di balik tempat-tempat dansa, apa yang ada di balik rumah-rumah mewah. akan kutelanjangi dunia ini dari kepalsuan. Kita hidup dalam masyarakat, jadi harus bekerjasama. dan kalau ada orang yang mau kaya sendiri, kalau ada orang yang mau mewah sendiri, biarlah ia hidup dihutan saja sebagai orang biadab.

 

Pementasan teater ini juga disertai dengan pameran poster, foto, dan buku-buku karya Rendra di lobby Teater Kecil pada pkl 10.00 wib.

 

Pemain : Nusa Kalimasada, Lisa Ristargi, Meritz Hindra, Awan Sanwani, Jean Marais, Rahma, Dimas Paramasta Wardana, Bunga Miftakulhadi, Ayez Kassar, Rahma Azizah Priadi, Pepeng Sutradara : Jose Rizal Manua | Artistik : Soni Sumarsono  |  Musik : Idrus Madani    

Pimpinan : Nunum Raraswati

 

Pementasan ini merupakan kerjasama antara PKJ-Taman Ismail Marzuki, Teater Tanah Air, Dompet Dhuafa Republika, RRI dan Departemen Komunikasi dan informasi RI 

 

Theatre in conjunction with the commemoration of the 100th day of the death of Rendra.

“BUNGA SEMERAH DARAH” or The Flowers as Red as Blood

A play by Rendra

Production of Teater Tanah Air

TEATER KECIL

10 — 11 November 2009

8 p.m.

Ticket: Rp 50,000

 

This is what I want to write about. So that they know how devastatingly low is the people’s living condition actually, so that they know what are actually behind the dancing ballrooms, what are behind the luxurious houses. I will unmask the world from falsenesses. We are living in a society so that we must work together. And if  there is someone wants to become rich all alone, if here is someone wants to live in luxury all alone, let them be living in the jungles as the barbarians.

 

The theatre will be followed by the exhibition of posters, photos, and books, all are the works of Rendra, taking place in the lobby of Teater Kecil, at 10 a.m.

 

The performance is organized with the collaboration of  the Jakarta Arts Centre-Taman Ismal Marzuki, Teater Tanah Air, Dompet Dhuafa Republika, RRI, and the Department of Communication and Information of the Republic of Indonesia.