DSC_0083

 Nama :

Syaifi’in Nuha

 

Lahir :

Jepara, Jawa Tengah,

17 September 1961

  

Pendidikan :

SD 2 Pecangaan, Jepara (1973)

SMP Wali Songo Pecangaan, Jepara (1976)

SMA Wali Songo Pecangaan, Jepara (1979)

  

Filmografi :

Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda Mata (1985),

 Ibunda (1986),

 Pacar Ketinggalan Kereta (1988),

A Long Road To Heaven (2006),

Laskar Pelangi (2008),

Romeo dan Juliet (2009),

Darah Garuda (2010),

True Love (2011)

 

Sinetron :

Kesaksian (1994),

Indonesia Berbisik (1995),

Tirai Sutra (1996),

Perkawinan Siti Zubaedah (1997)

Bila Esok Tiba (1997),

 Bingkisan Untuk Presiden (2000),

Cinta Terhalang Tembok (2002)

 

Penghargaan :

Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 1985 sebagai Pemeran Utama Terbaik dalam Film Doea Tanda Mata

Seniman Teater

  Alex Komang

 

 

 

Alex Komang adalah salah satu aktor yang tergabung dalam Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Ia amat aktif di dunia seni peran hingga sekarang. Meraih Piala Citra pada FFI tahun 1985 dalam film Doea Tanda Mata arahan sutradara Teguh Karya sebagai pemeran Utama Terbaik. Ayahnya sama sekali tidak bangga tapi justru malu karena anaknya mengubah nama aslinya, Syaiful Nuha menjadi Alex Komang. Kalau dicemooh tetanggannya, si ayah beralasan Alex Komang itu ucapan lidah Jawa untuk kata-–kata Alaika Komarun, artinya Untukmu Bulan. Tapi apa boleh buat, sejak awal sewaktu masih di Jepara pada diri Alex sudah tumbuh minat terhadap sastra dan teater. Ia membaca buku sastra seperti karya Shakespeare, Hamlet, Chekov yang ia dapatkan bukan di sekolah tapi di toko buku milik ayahnya.

 

Niat Alex terjun ke bidang kesenian di tentang ayahnya yang kiai. Maklum, didaerahnya Jepara kesenian masih diperdebatkan kehadirannya, bahkan dianggap haram. Ketika menulis cerpen pun ia terpaksa menggunakan nama samaran, Alex Komang, agar tidak melukai perasaan ayahnya. Makanya setelah lulus SMA ia hijrah ke Jakarta walau harus jauh dari ibu yang sangat mengayominya. Tinggal di Gelanggang Olah Raga Bulungan, Jakarta Selatan, tempat nongkrong para seniman, disitu pula ia pertama kali ikut bermain teater. Pada 1980-–an itu, ia bersama teater EGG (Teater Tetas) mengikuti festival teater Remaja dan mereka mementaskan Jerit Tangis Di Malam Buta. Perkenalannya dengan Teguh Karya membuatnya bergabung dengan Teater Populer pimpinannya memberinya peluang besar demi totalitas kesenian. Dalam setiap lakon, Alex selalu memainkan peran yang menantang.

 

Melalui film-filmnya Secangkir Kopi Pahit, Doea Tanda Mata, Ibunda, Pacar Ketinggalan Kereta, membuatnya menjadi tenar demikian pula lewat sejumlah sinetron. Walau terkenal sebagai aktor, ia menganggap profesi aktor tidak berbeda denga profesi yang lain. Kalau tidak berada di atas panggung, saya tidak harus memberi jarak. Kalau saya diatas panggung, saya menghormati panggung itu, ujarnya.

 

Alex pengaggum Teguh Karya, Gunawan Moehammad, dan Xanana Gusmao. Pak Teguh buat saya berperan dalam mempengaruhi saya berkesenian. Dan yang mengantar saya untuk mengenal banyak hal, begitu alasannya.

Copy of DSC_6523

1001 Malam (2009)

Melalui proses yang cepat, tanpa pacaran Alex menikah dengan wanita Malaysia, Nory, pada tahun 1998. Dari perkawinannya itu mereka dikaruniai satu anak. Anak yang baru tumbuh itu semua spontan, tapi oleh orang dewasa diartikan sebagai kenakalan”, katanya. Untuk itu ia membangun kespontanan dengan cara memberi pengertian kepada anak ketimbang larangan. Saya tidak punya suatu persepsi bahwa bila ayahnya seniman, anaknya juga harus jadi seniman”, ujarnya. Kalau bapaknya seniman, lalu anaknya jadi seniman, itu karena si anak bersinggungan dengan kegiatan bapaknya, bukan karena darah bapaknya, katanya.***

 

(Dari Berbagai Sumber)