Nama : Amir
Hamzah Pasaribu Lahir : Siborong-borong,
Sumatera Utara, 21
Mei 1915 Wafat : Medan,
Sumatera Utara, 10
Februari 2010 Pendidikan : HIS Narumonda, (1930-an) MULO HIK Sekolah
Musik Musashini Jepang (1940) Karier : Pemain
Cello di Orkes Radio Van Batavia (1942), Bekerja
di Keimin Bunka Shidoso dan di radio pendudukan Jepang (1945), Bekerja
di NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep), Orkes
Studio Jakarta dan RRI Jakarta (1952) Direktur
Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta (1954-1957), Direktur
BI-kursus jurusan Seni Suara (kemudian menjadi jurusan musik di IKIP Jakarta)
(1957-1968), Guru piano dan cello pada Cultureel Centrum Suriname (1968-1980), Guru privat
piano di Paramaribo, Suriname (1980-1995) Karya : Capung Kecimpung
di Cikapundung, Rondino Capriccioso, 2 Sonata’s, Petruk, Gareng dan Bagong, Rabanara dances, Rabanara dances no.7, Spielstuck, Puisi
Bogor, Kesan
Langgar (Impressie
Langgar), Sampaniara
no.1 (Getek silam kali Ancol), 6
Variasi Sriwijaya, Bongkok’s Bamboo-flute (Orpheus in de dessa), Indihyang, Ball-dance of the river-fish princess (Tari Ikan Putri) Penghargaan : Nugraha Bhakti Nusik Indonesia (2004), Anugerah Seni Akademi Jakarta (2006) |
Komponis Amir Pasaribu Lahir di Siborong-borong, desa kecil di Tanah
Batak. Sebagai anak bungsu dari tiga
bersaudara, dari seorang asisten wedana, keluarganya terbilang berada, semua anak
dalam keluarga ini mendapat pendidikan Belanda. Sudah sejak masa anak-anak
musik klasik akrab di telinga Amir lewat gramafon ayahnya. Keluarga ini pun
mempunyai orgel harmonium, organ yang masih nonelektrik, yang bunyinya
berasal dari udara yang dikocok dengan pompa yang digerakan dengan kaki
pemainnya. Sejak kecil pula Amir sudah memainkan orgel ini, setelah belajar
di gereja Huria Kristen Batak Protestan di desanya, ia juga sering diminta
mengiringi nyanyian gereja. Pada usia 6
tahun, ia masuk HIS (sekolah dasar zaman Belanda) di Narumonda, karena di
desanya belum ada HIS. Amir harus masuk asrama karena jarak antara tempat
tinggal orang tuanya dan Narumonda cukup jauh. Dikelas 3 Amir dikeluarkan
dari sekolah atas keputusan kepala sekolah yang orang Belanda, karena di
malam hari ia sering menyelinap dari asrama untuk makan di warung. Ia bosan
dengan jatah asrama yang katanya hampir tiap hari makan nasi merah berlauk
ikan asin. Ia kemudian dimasukkan sekolah untuk anak-anak Belanda di Padang,
Sumatera Barat, berkat teman kakaknya yang waktu itu sudah duduk di MULO (SMP
zaman Belanda). Mulanya bapaknya ingin menyekolahkannya di Sibolga saja,
masih di Sumatera Utara, tapi tak ada sekolah yang mau menerimanya karena
dari HIS Narumonda tak sepotong surat keterangan pun diberikan. Di Padang
inilah awal Amir mengenal musik secara serius. Ini bukan karena di sekolah
itu ada sebuah piano, yang selalu dilihatnya dengan keinginan yang tak pernah
terlaksana, memainkan piano. Melainkan karena suatu sore ia mendengar musik
dari sebuah rumah yang dilewatinya. Melihat keseriusan Amir, pastor Frater Yustianus menawarinya belajar biola, juga piano. Jadilah hampir tiap sore Amir
belajar biola dan kemudian piano. Lulus dari ELS, Amir
masuk MULO, di Padang juga. Naik ke kelas 3, ayahnya memindahkannya
ke Tarutung, kota di Sumatera Utara, agar lebih dekat ke rumah. Di kota ini
tinggal seorang violis, bernama Meneer Bosch kemudian Amir belajar kepada
violis itu. Setamat MULO
ia lalu melanjutkan sekolah ke HIK, sekolah guru di Bandung. Sekolah ini
mengirimkan siswanya yang serius dan berbakat dalam musik ke guru-guru privat
yang memang profesional. Waktu itu memang banyak musisi dari Eropa dan Rusia
datang di Hindia Belanda, karena pertunjukan musik kerap diadakan. Revolusi
Bolsyewik di Rusia mengakibatkan banyak profesor musik lari, antara lain ke
Jawa. Amir sempat belajar piano kepada Willy van Swers, pianis Belanda.
Belajar komposisi kepada James Zwart, juga kepada Joan Giesen. Atas anjuran
Zwart, Amir kemudian belajar cello kepada pemain cello Rusia terkenal yang
lari ke Jawa, Nicolai Farfolomeyef. Dunia musik profesional dikenal Amir
ketika sebuah grup musik dari Filipina masuk ke Jakarta. Grup ini butuh
pianis yang bisa baca not dan mengenal musik untuk mengiringi dansa. Bukan
hanya soal uang yang lebih dari cukup untuk seorang Amir, pergaulannya ini
pun membuatnya harus sering berlatih, dan mempelajari bahasa asing. Ia merasa
dilahirkan sebagai orang yang mudah menguasai bahasa. Tamat dari
HIK, tahu ternyata Amir juga pandai menggesek cello, grup Filipina itu
mengajaknya bermain di kapal pesiar yang berkeliling ke Jepang dan Australia.
Inilah pembuka jalan Amir meneruskan pendidikan musik di sekolah musik
Musashini, Jepang, mengambil piano dan cello. Kembali di Jakarta ia diterima
bergabung dengan Orkes Radio van Batavia. Setelah
Indonesia merdeka, Amir yang di zaman Jepang sudah bekerja di RRI Jakarta
kemudian diangkat sebagai kepala studio musik RRI. Inilah zaman Amir begitu
produktif dan aktif. Rupanya hidup seorang musisi dan komponis musik klasik
makin berat di Indonesia. Setelah sempat mendirikan kursus musik di Jakarta
selepas dari SMIND Yogyakarta, akhirnya Amir mengambil peluang ketika
ditawari mengajar di Pusat Kebudayaan Suriname pada tahun 1968. Ia pulang ke
Indonesia setelah 27 tahun dinegeri orang. Ia mendapati bahwa dunia musik
serius Indonesia masih menghargai ciptaan-ciptaan dari seorang yang total
menggunakan hidupnya untuk musik sebagai pemain, komponis, guru, pendiri
organisasi Liga Musik Indonesia, kritikus musik. Komponis
seangkatan Binsar Sitompul, Cornel Simandjuntak, RAJ Sopedjasmin dan
penggubah lagi Andhika Bhayangkari ini, menutup lembaran hidupnya pada hari
Rabu, 10 Februari 2010, pukul 17.15, di Medan, Sumatera Utara. (Dari Berbagai Sumber) |