|
Nama : Budi Darma Lahir : Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937 Karier : Dekan Fakultas Keguruan Sastra/Seni IKIP Anggota Dewan Kesenian Surabaya, Rektor IKIP (1984 - 1988), Guru Besar Pascasarjana UNESA (Universitas Negeri Surabaya) Pendidikan : Jurusan Sastra Barat Fakultas UGM (1963), (1970 - 1971), Universitas Prestasi : Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Roman DKJ
(1980), Hadiah Sastra DKJ melalui novel Olenka (1983), SEA Write award (1984), Anugerah Seni Pemerintah RI (1993), Penghargaan Penulis Cerpen Terbaik Kompas (1997-1998,
2001, 2004), Satyalencana Kebudayaan dari Presiden RI (2003), Achmad Bakrie Award (2005) Karya Tulis : Orang-Orang Blomingtoon, kumpulan cerpen (1980), Solilokui, kumpulan esei (1983), Olenka (1983), Sejumlah Esai Sastra (!984), Rafilus (1988), Harmonium, kumpilan esai (1995) Ny Talis (1996), Kritikus Adinan, kumpulan cerpen (2002) |
Sastrawan Budi Darma Bagi
sastrawan Budi Darma, menulis novel tak boleh terganggu interupsi. Tidak
boleh terganggu oleh pekerjaan lainnya, atau gangguan mikirin’ biaya
penerbitan, godaan dapur ngebul’ atau gangguan yang bersifat mendasar.
Menulis fiksi memerlukan konsentrasi yang dalam dan terfokus. Tidak seperti
menulis tidak tugas lain. Pekerjaan menulis novel/fiksi memerlukan waktu
tanpa gangguan apa pun, sehingga apa yang dikerjakan akan rampung sesuai
target dibarengi kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena
alasan itukah barangkali, sastrawan kelahiran Rembang, Kendati
sastrawan yang dikenal sangat rendah hati, santun, disiplin dan kritis ini
belum lagi menulis novel, namun pada hari-hari kehidupannya banyak tertantang
oleh kesibukan. Tugas mengajar dan membimbing mahasiswa Pasca Sarjana di
Universitas Negeri Meski
vakum menulis karya sastra, Budi Darma tetap memelihara hubungan dengan dunia
sastra. Ia menjadi kurator antologi cerpen pengarang Jawa Timur, yang
diterbitkan dalam rangka Festival Seni Surabaya tahun lalu. Bahkan ia pun menjadi
narasumber para penulis muda. Doktor sastra lulusan Indiana University,
Amerika Serikat ini, mengatakan, menulis fiksi banyak dikendalikan oleh mood.
Fiksi juga ada hubungannya dengan momentum, niat dan ide. Ide sebenarnya
banyak, kalau sudah muncul, ada momentum dan bisa menulis tanpa interupsi.
Semua gagasan yang terpendam akan muncul secara otomatis. Seperti halnya
ketika ia menulis Olenka saat belajar di Indiana, Amerika
Serikat, dan menulis Rafilus, pada waktu melakukan
penelitian di Inggris. Dia
menyambut hangat terbitnya karya novel akhir-akhir ini diterbitkan dalam
jumlah yang ‘bejibun’, hal itu dipandang dapat meningkatkan budaya baca
masyarakat Menurut
Budi Darma, yang menggerakan dunia bukan Dengan
adanya segmentasi, pengarang dipacu untuk terus menerus menulis, tanpa sempat
merenung dan melakukan pengendapan. Pengarang cenderung ‘kejar tayang’ ada target
untuk menyelesaikan dan menerbitkan novel dalam jangka waktu tertentu.*** (Dari Berbagai Sumber) |