|
Seniman Teater Budi Ros Lahir di Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, 6 Januari 1959. Pernah kuliah di Institut
Kesenian Kesenian diserapnya
sejak ia masih kanak-kanak. Sastra Mihardja, sang ayah, sering mengajak nonton wayang kulit semalaman hingga paginya sering bolos sekolah. Selain itu, wayang orang
dan ketoprak seolah jadi tontonan
wajibnya. Pasalnya, sang ayah sering nimbrung main setiap ada ketoprak
atau wayang orang keliling mentas di kampung.
Belakangan dia dipercaya sebagai asisten sutradara N. Riantiarno. Sebagai aktor, dia tekun
tapi pendiam. Dan sebagai sutradara, dia penyabar. Dia selalu berkeinginan
memberikan ruang kreatif yang seluas-luasnya bagi aktor. Dia
senantiasa percaya, aktor mampu mengejar
apa yang sesungguhnya dia inginkan. Sebagai aktor, pengalaman pentasnya sangat bervariasi. Berperan sebagai Macun dalam Sampek
Engtay di tahun 1988. Memainkan peran Hanbun, suami ular putih,
dalam Opera Ular Putih tahun 1994. Memerankan Semar dalam Semar Gugat tahun 1995, Nata Sasmita Picum, Raja Pengemis, dalam Opera Ikan Asin tahun 1997, Kala dalam Kala
tahun 2001, Romeo dalam Roman
Yulia tahun 2002,
Tibal dalam Opera
Kecoa tahun 203 dan Samiaji dalam
Republik Togog tahun 2004,
Martin dalam Kenapa
Leonardo tahun 2008 dan
menjadi Petruk dalam Republik Petruk tahun 2009. Tahun 2010, pada pementasan Produksi ke-119 Teater Koma, Sie Jin Kwie dan pada pementasan
Produksi ke-122 tahun 2011,
Si Jien
Kwie Kena Fitnah, Budi Ros berperan sebagai Dalang. (Dari Berbagai Sumber) |
Nama : Budi Ros Lahir : Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, 6 Januari
1959 Pendidikan : Institut Kesenian Jurusan Teater Penghargaan : Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (2003) |