Seniman Teater

Budi Ros

 

Lahir di Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, 6 Januari 1959. Pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Jurusan Teater. Sejak tahun 1985 hingga sekarang bergabung degann Teater Koma, ia mendalami bidang penulisan, seni peran, dan penyutradaraan. Selama 9 tahun tinggal di sanggar Teater Koma di bilangan Setiabudi (1986-1994).

Kesenian diserapnya sejak ia masih kanak-kanak. Sastra Mihardja, sang ayah, sering mengajak nonton wayang kulit semalaman hingga paginya sering bolos sekolah. Selain itu, wayang orang dan ketoprak seolah jadi tontonan wajibnya. Pasalnya, sang ayah sering nimbrung main setiap ada ketoprak atau wayang orang keliling mentas di kampung.

Pada pagelaran Teater Koma yang ke 110, Budi Ros terkena giliran berkiprah sebagai sutradara. Lakon tersebut di pentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada Mei 2006, dengan lakon Festival Topeng. Festival Topeng berhasil menyabet salah satu penghargaan dalam Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2003.

Mengangkat karya sendiri ke atas pentas, tentu memiliki tantangan yang khas. Dan lakon, biasanya sulit memperoleh peluang untuk dipentaskan, apalagi jika penulisnya tidak memiliki kelompok sendiri. Budi Ros meraih peluang itu, karena dia bergabung dengan kelompok yang peduli terhadap konsep regenerasi. Dalam penyutradaraan, Budi Ros bukan orang baru. Dia banyak menyutradarai lakon-lakon Teater Koma, yang naskahnya juga dia tulis sendiri, di berbagai venue di Jakarta.

Bergabung dengan Teater Koma sekak tahun 1985, tepat pada pergelaran Opera Kecoa yang pertama di TIM. Pada waktu itu, sebagai pemula, dia bekerja secara serabutan. Apa pun dia tangani, baik sebagai pencatat, pelaksana busana, pelaksana artistik, petugas piket, pemegang keuangan, hingga stand-in pada saat latihan jika ada aktor yang absen. Secara tidak langsung dia mempelajari semua pekara yang berkaitan dengan teater.

Sie Jin Kwie Kena Fitnah,

Teater Koma (2011)

Belakangan dia dipercaya sebagai asisten sutradara N. Riantiarno. Sebagai aktor, dia tekun tapi pendiam. Dan sebagai sutradara, dia penyabar. Dia selalu berkeinginan memberikan ruang kreatif yang seluas-luasnya bagi aktor. Dia senantiasa percaya, aktor mampu mengejar apa yang sesungguhnya dia inginkan.

Sebagai aktor, pengalaman pentasnya sangat bervariasi. Berperan sebagai Macun dalam Sampek Engtay di tahun 1988. Memainkan peran Hanbun, suami ular putih, dalam Opera Ular Putih tahun 1994. Memerankan Semar dalam Semar Gugat tahun 1995, Nata Sasmita Picum, Raja Pengemis, dalam Opera Ikan Asin tahun 1997, Kala dalam Kala tahun 2001, Romeo dalam Roman Yulia tahun 2002, Tibal dalam Opera Kecoa tahun 203 dan Samiaji dalam Republik Togog tahun 2004, Martin dalam Kenapa Leonardo tahun 2008 dan menjadi Petruk dalam Republik Petruk tahun 2009. Tahun 2010, pada pementasan Produksi ke-119 Teater Koma, Sie Jin Kwie dan pada pementasan Produksi ke-122 tahun 2011, Si Jien Kwie Kena Fitnah, Budi Ros berperan sebagai Dalang.

(Dari Berbagai Sumber)

 

Nama :

Budi Ros

 

Lahir :

Banjarnegara, Banyumas,

Jawa Tengah,

6 Januari 1959

 

Pendidikan :

Institut Kesenian Jakarta,

Jurusan Teater

 

Penghargaan :

Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta

(2003)