|
Sastrawan Abdul Hadi W.M Dikenal sebagai salah satu ahli
filsafat di Menempuh pendidikan
di Fakultas Sastra,
Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda (1965-1967). lalu melanjutkan
ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral (1968-1971), namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke
Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran mengambil program studi antropologi (1971-1973), juga
tidak selesai. Akhirnya ia mendapatkan
kesempatan studi dan mengambil gelar Master dan Doktor dari Universiti Sains Malaysia di Pulau Sekitar tahun
1970-an, para pengamat menilainya sebagai pencipta puisi sufis. Ia memang
menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu. Seiring
dengan waktu, karya-karyanya cenderung bernuansa mistis Islam dan kadang malah
menyatu dengan mistis Jawa. Orang sering membandingkannya dengan Taufiq Ismail, yang juga berpuisi religius. Namun ia membantah. “Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang saya rasakan. Sedang Taufiq hanya menekankan sifat moralistisnya.” Sajaknya, Madura
mendapat pujian dari Redaktur Majalah Horison (1968), Kumpulan Sajaknya Meditasi (1976) mendapat
Hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ 1976/1977, ditahun yang sama ia memperoleh Hadiah Seni dari
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dan tahun 1985 ia memperoleh Hadiah Sastra Asean. Salah sorang penggerak program Sastra Masuk Sekolah (SMS) di bawah naungan Depdiknas dan Yayasan Indonesia atas sponsor
The Ford Foundation bersama Leon Agusta, Taufik ismail, Soetardji Calzoum bachri dan Hamid Jabbar
(alm) ini, menikah dengan wartawati dan pelukis Tedjawati Koentjoro (1978), dikaruniai tiga orang putri,
Gayatri Wedotami, Diah Kuswandini dan Ayustha Ayutthaya
(Dari
berbagai Sumber) |
Nama
: Abdul
Hadi Widji Muthari Lahir
: Pendidikan
: SD,
Pesongsongan (1958), SMP,
Sumenep (1961), SMA,
Sarjana Muda Fakultas Sastra
Universitas Gadjah Mada (1965-1967), Program
Doktor Filsafat Barat Fakultas Sastra
Universitas Gadjah Mada (1968-1971,
tidak tamat ) Program
Studi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (1971-1973,
tidak selesai), International
Writing Program di Iowa University, Iowa, Amerika Serikat (1973-1974), Meraih gelar master dan doktor filsafat dari Universiti Sains Malaysia di Penang, Pengelola Pesantren An-Naba Karier
: Redaktur Gema Mahasiswa (1967-1968), Redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat (1969-1974), Redaktur Pelaksana Majalah Budaya Jaya (1977-1978), Redaktur Kebudayaan Berita Buana (1978), Redaktur Majalah Kamar Dagang (1979-1981), Redaktur Kebudayaan Harian Berita Buana (1979-1990), Redaktur Balai Pustaka (1981-1983), Redaktur Jurnal Kebudayaan Ulumul Qur’an (1981-1983) Anggota Dewan Kesenian Jakarta (1982), Anggota Lembaga Sensor Film (2000 s/d sekarang), Ketua Dewan
Kurator Bayt Al Qur’an dan Masjid
Istiqlal (2000 s/d sekarang), Ketua Majelis
Kebudayan Muhammadiyah (2000
s/d sekarang), Anggota Dewan Pakar ICMI (2000 s/d sekarang), Anggota Dewan Penasehat PARMUSI (2000
s/d sekarang), Dosen Universitas
Sains Malaysia di Penang Malaysia, Dosen tetap
Fakultas Falsafah Universitas Paramadina, Jakarta, Dosen luar
biasa FIB UI, Dosen Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Dosen The Islamic College for
Advance Studies Penghargaan
: Sajak Madura
mendapat pujian dari Redaktur Majalah Horison (1968), Kumpulan Sajak Meditasi (1976) mendapat Hadiah Buku Puisi Terbaik
DKJ (1976/1977), Hadiah Seni dari Departemen
Pendidikan dan Hadiah Sastra Asean (1985), Gelar doktor
dari Universiti Sains Malaysia, Pulau
Penang (1996), Satyalencana Kebudayaan (2011) Kumpulan Puisi : At
Least We Meet Again, Arjuna In Meditation (bersama Sutardji Calzoum Bachri dan Darmanto Yatman), Madura : Luang Prabhang dan pembawa Matahari, Meditasi (1976), Laut Belum
Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut,
Anak Angin (1983) Buku Penelitian
Filasafat : Kembali Ke Akar Kembali
Ke Sumber : Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik (Pustaka Firdaus, 1999), Islam
: Cakrawala Estetik dan Budaya (Pustaka Firdaus, 1999), Tsawuf yang Tertindas |