|
Seniman Teater Idries Pulungan Sepertinya ia di lahirkan untuk berteater. Sedari kecil, anak ketiga
dari Bagaikan air mengalir, ia
pun terus berteater ketika di SMA. Bahkan, saat itu ia memahami
makna sandiwara ketika berteater. Alkisah, seorang temannya menghimpun mereka ke dalam
grup teater sekolahan. Teman itu yang mengajari mereka berlakon. Kenyataannya,
sang teman memang pesandiwara kawakan. “Belakangan, baru
saya tahu kalau dia sama
sekali tak pernah bersentuhan dengan teater”, kata Idris. Kendati dikibuli, tak berarti semangatnya padam. Dikurun waktu tahun
1976 hingga tahun 1977, ia silih berganti
bergabung di Teater 01,
Inilah yang membikin Idries
dan kerabat lainnya betah. Memang, Teater Koma tidak menerapkan
pendidikan formal. Tak hanya disuguhkan teori teater, kerabat Teater Koma pun melatihnya dalam berbagai pementasan. Begitu pula dengan Idries yang mengikuti berbagai produksi Teater Koma. Ia bergabung
dengan Teater Koma mulai dari
lakon Maaf, Maaf, Maaf tahun
1978. Selain pernah menyutradarai pementasan-pementasan
kecil Teater Koma, ia juga
sempat pula menggarap sinetron komedi Jumillah, Kembang Kota Paris
yang ditayangkan di TVRI pada tahun 1989. Ia masih memiliki
obsesi mempunyai grup teater sendiri.
Dari situ, ia akan membiasakan membuat naskah sendiri. “Setelah itu baru mendirikan grup sendiri”, ujarnya. Pada produksi Teater Koma yang ke-75 ia dipercaya menjadi sutradara. Kemudian ia memilih
lakon Rampok karya penulis
Jerman Friedrich Von Schiller, yang disadurkan ke dalam atmosfer kultur Batak. Lakon tersebut di pentaskan di TIM. (Dari Berbagai
Sumber) |
Nama : Sutan Parlindungan
Muhammad Idries Pulungan Lahir : Karya : Rampok, produksi
Teater Koma ke-75 Profesi : Pemain Teater, Asisten Sutradara, Sutradara Teater Sinetron : Jumilah (1989), Kembang |