Seniman Teater

 

 

Idries Pulungan

 

 

Sepertinya ia di lahirkan untuk berteater. Sedari kecil, anak ketiga dari lima bersaudara ini gemar meniru tingkah laku orang di sekelilingnya. Kegemarannya tersalurkan ketika ia di Sekolah Dasar. Guru keseniannya, Azis, menuntunnya giat bersandiwara. Bersama teman-temannya, ia pun untuk pertama kali mementaskan lakon di sekolah, di tahun 1971. Saya lupa lakonnya, kisahnya. Hal serupa dilakukannya ketika di SMP, tahun 1974 yakni di teater 57.

 

Bagaikan air mengalir, ia pun terus berteater ketika di SMA. Bahkan, saat itu ia memahami makna sandiwara ketika berteater. Alkisah, seorang temannya menghimpun mereka ke dalam grup teater sekolahan. Teman itu yang mengajari mereka berlakon. Kenyataannya, sang teman memang pesandiwara kawakan. Belakangan, baru saya tahu kalau dia sama sekali tak pernah bersentuhan dengan teater, kata Idris. Kendati dikibuli, tak berarti semangatnya padam.

 

Dikurun waktu tahun 1976 hingga tahun 1977, ia silih berganti bergabung di Teater 01, Teater Pass, hingga Kelompok Kecil. Setahun kemudian, ia merasa mulai bersungguh-sungguh menggeluti teater, saat bergabung di Teater Koma.

 

Teater Koma ternyata menjadi titik bagi kegelisahan pencaharian Idries. Di Teater Koma bukan sekedar gagah-gagahan berteater, tetapi mulai menemukan kesadaran untuk apa berteater, sekaligus prinsip berteater yang benar. Akhirnya, saya merasa teater telah menjadi pilihan hidup, cetusnya. Mas Nano itu guru luar biasa, ia memberikan kunci bagi kami dalam mendidik, ia pun menjadi kakak sekaligus teman, tambahnya.

 

Inilah yang membikin Idries dan kerabat lainnya betah. Memang, Teater Koma tidak menerapkan pendidikan formal. Tak hanya disuguhkan teori teater, kerabat Teater Koma pun melatihnya dalam berbagai pementasan. Begitu pula dengan Idries yang mengikuti berbagai produksi Teater Koma. Ia bergabung dengan Teater Koma mulai dari lakon Maaf, Maaf, Maaf tahun 1978. Selain pernah menyutradarai pementasan-pementasan kecil Teater Koma, ia juga sempat pula menggarap sinetron komedi Jumillah, Kembang Kota Paris yang ditayangkan di TVRI pada tahun 1989.

 

Ia masih memiliki obsesi mempunyai grup teater sendiri. Dari situ, ia akan membiasakan membuat naskah sendiri. Setelah itu baru mendirikan grup sendiri, ujarnya. Pada produksi Teater Koma yang ke-75 ia dipercaya menjadi sutradara. Kemudian ia memilih lakon Rampok karya penulis Jerman Friedrich Von Schiller, yang disadurkan ke dalam atmosfer kultur Batak. Lakon tersebut di pentaskan di TIM.

 

 

 

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :

Sutan Parlindungan Muhammad Idries Pulungan

 

Lahir :

Jakarta, 31 Juli 1960

 

Karya :

Rampok, produksi Teater Koma ke-75

 

Profesi :

Pemain Teater,

Asisten Sutradara,

Sutradara Teater

 

Sinetron :

Jumilah (1989),

Kembang Kota Paris (1989)