|
Seniman Teater
Ikranagara
Ayahnya keturunan
Madura dan Makasar dan merupakan
seorang aktivis NU di
Banyuwangi, Jawa Timur. Sedangkan ibunya adalah ketrurunan Jawa campur Bali. Waktu SD,
Ikra pernah belajar pada ayah temannya yang selain dalang dan juga
bisa membuat wayang. Hal inilah barangkali yang mempengaruhinya
dalam berkesenian. Dari keluarga pengaruhnya dalam karang mengarang, dari ayah temannya dalam melukis. Maka ketika SD, ia sudah
dikenal sebagai juara mengarang dan mengambar.
Waktu SMP puisinya
sudah di muat di koran
Bali. Puisi itu sangat terpengaruh
oleh Chairil Anwar. Di SMA Negri Singaraja, ia satu sekolah
dengan Putu Wijaya ,lalu membuat grup teater. “Saya sangat takut
tampil di muka umum, maka
saya ingin jadi pengarang saja”, katanya. Tapi Putu Wijaya
memaksanya untuk bermain. Akhirnya ia main. “Dengan teater hilanglah rasa malu saya.
Malah saking
asyiknya berteater saya pernah tidak
naik kelas”, tambahnya.
|

Kereta Kencana
(2009)
|
Karena ingin menjadi dokter, ia pindah ke
SMA Banyuwangi. Di sana
Ikra satu kos bersama Armaya, seorang penyair. Jiwa seninya malah menjadi-jadi. Ikra masuk HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) Banyuwangi, tokohnya Hasnan Singodimayan. Lewat Hasnan dan Armaya Ikra mulai belajar ideologi kesenian.
Sejak SMA Ia
sudah dikenal sebagai pengarang. Kemudian setelah masuk ke FK-UGM, jiwa seninya malah makin menggila. Kuliah praktikum tidak penting lagi baginya. Ia makin larut
dan asyik berteater. Impian-impian orang tua dan
masyarakat mengenai titel, menjadi tidak penting lagi buatnya. Waktu Ikra menulis puisi, ia lebih memilih
obyek alam, ombak, gunung, dan bulan. Tapi akhirnya ia lebih banyak
menulis drama, karena latar belakang pendidikannya yang pasti alam.
|
Teater ternyata
lebih memberikan ruang untuk mengekpresikan
pikiran-pikiran, ideologi,
dan renungan-renungannya.
Tapi kemudian, setelah Ikra semakin banyak wawasan, puisi ternyata bisa juga memberikan ruang untuk mengekpresikan
pikiran-pikirannya. Akhirnya,
Ikra berkesimpulan, bahwa mengarang adalah seorang intelektual juga.
Berangkat dari budaya tradisional Bali untuk menciptakan suatu teater baru. Ikra melakukan dekonstruksi terhadap teater tradisional dalam arti yang positif. WS Rendra dan Arifin C. Noer telah lebih
dulu melakukan itu. WS Rendra menggali budaya Jawa, sedangkan Arifin.C. Noer menggali kesenian Cirebon
dan Betawi. Putu dan Ikra
menggali budaya Bali. Dekontruksi ini adalah suatu
proses kreatif, bukan suatu yang negatif. Dalam kesenian rakyat tanggung jawab sosial itu selalu
ada. Terutama sekali dilakukan oleh para badut,
dalam wayang misalnya goro-goro. Jadi, walaupun wayang bicara tentang masa lalu India,
tetapi begitu goro-goro kita bicara mengenai masa sekarang, yang ada relevansinya dengan tanggung jawab sosial juga.
(Dari
Berbagai Sumber )
|
Nama
:
Muhamad Bakrie
Lahir
:
Loloan Barat,
Nusa Tenggara
Barat
19
September 1943
Pendidikan
:
SMA
Negeri Singa Raja,
Fakultas Ilmu Kedokteran UGM Yogjakarta
(Tidak Tamat)
Karya Teater :
Topeng (1972),
Saat-saat Dramband Mengerang-ngerang
(1973),
Angkat Puisi (1979),
Tirai (1984),
Karier
:
Dosen di
Universitas Ohio
Amerika Serikat
(1989-1981),
Dosen Tamu
di Universitas California (1974-1974)
Filmografi
:
Pagar Kawat
Berduri (1961),
Bernafas Dalam Lumpur (1970),
Si Doel
Anak Modern (1976),
Cinta Biru
(1977),
Dr.
Siti Pertiwi (1979),
Untukmu Indonesiaku (1980),
Djakarta 66 (1982),
Kejarlah Daku Kau Kutangkap
(1985),
Keluarga Markum (1986),
Bintang Kejora (1986),
Laskar Pelangi (2008),
Under
The Three (2008), Garuda Didadaku
(2009),
Sang
Pencerah (2010)
Sinetron
:
Sebuah Pintu Kalbu (1992),
Dukun Palsu
(1995),
Masih Ada
Waktu (1997)
Penghargaan :
Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (2009)
|