Nama : Iwan Maratua
Dongan Simatupang Lahir : Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928 Wafat : Pendidikan : sekolah kedokteran
(NIAS), Jurusan Antropologi
Fakulteit der Letteren, Rijksuniversiteit Leiden
(Belanda), Jurusan Filsafat Barat Universitas Sorbonne (Perancis) Karya Tulis
: Petang ditaman
- drama sebabak (1966), Merahnja merah
- novel (1968), Kering - novel (1972), Drought - tejemahanj.
Harry Aveling
(1978), Kooong: kisah
tentang seekor perkutut (1975), Tegak lurus dengan langit : Ziarah - novel (1983), The Pilgrim – terjamahan Harry Aveling
(1975), Ziarah - terjemahan
bahasa Perancis (1989), Surat-surat politik
Iwan Simatupang,
1964-1966 (1986), Poems - selections (1993) Square moon, and three other
short plays - terjemahan. John H. McGlynn (1997), Ziarah malam:
sajak-sajak 1952-1967 - penyunting:
Oyon Sofyan, S. Samsoerizal Dar, catatan penutup, Dami N. Toda (1993), Kebebasan pengarang
dan masalah tanah air: esai-esai Iwan Simatupang, editor, Oyon Sofyan, Frans M. Parera (2004), RT Nol
/ RW Nol - drama satu babak, Penghargaan : Mendapat beasiswa
dari STICUSA untk belajar antropologi di Fakulteit der Letteren, Rijksuniversiteit, Merahnya
Merah
(1968) mendapat hadiah sastra Nasional 1970, Ziarah (1970) mendapat hadiah
roman ASEAN terbaik 1977. |
Sastrawan Iwan
Simatupang Bernama lengkap Iwan Maratua Dongan Simatupang, dilahirkan di Sibolga, Sumatera
Utara, 18 Januari 1928. Masuk Fakultas Kedokteran di Surabaya pada tahun 1953. Kemudian, akhir 1954 dia menuju Amsterdam, Belanda untuk belajar atas beasiswa Sticusa (Stichting voor Culturele Samenwerking), bidang antropologi di Fakulteit der Letteren, Rijksuniversiteit, Leiden, lalu masuk jurusan
Filsafat Barat Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.
Ketika di Belanda, sejak
1955 sampai 1958, Iwan giat menulis di majalah Gajah
Mada, terbitan Iwan pernah menjadi guru, wartawan, pengarang cerpen dan puisi,
selain menulis esai, drama dan novel. Puisinya pertamanya dipublikasikan berjudul Ada Dukacarita di Gurun, dimuat majalah Siasat edisi 6 Juli 1952. Sajaknya yang lain adalah Sebagai wartawan Iwan menulis banyak sketsa tentang orang-orang tersisih terpinggirkan. Misalnya, Iwan menulis di kolomnya itu, Oleh-oleh
untuk Pulau Bawean, Prasarana; Apa Itu Anakku?, Aduh… Jangan
Terlalu Maju, Atuh!, Husy!
Geus! Hoechst!, Di Suatu Pagi, Seorang
Pangeran Datang dari Seberang Lautan, dan Dari Tepi Langit yang Satu ke Tepi
Langit yang Lain. kritikus sastra menyebut karyanya sebagai avant garde terhadap buah pena Iwan. Iwan
sendiri menyebut dirinya manusia marjinal, manusia perbatasan. Dalam novelnya Ziarah, Merahnya Merah, Kering dan Koong,
juga pada drama-dramanya, Petang di Taman, RT 0 RW 0, maupun Kaktus dan Kemerdekaan, begitu pula dalam cerpen-cerpennya, para tokohnya terkesan berkelakuan aneh, tidak rasional. Iwan mendapat hadiah penghargaan untuk cerita pendeknya dalam Erwin Gastilla di Filipina, dan hadiah untuk
karya nonfiksi dari Mrs. Judi Lee dari Singapura. Tokoh-tokoh dalam cerita Iwan adalah manusia
terpencil, kesepian, terasing, dilanda tragedi, perenung, dan cenderung murung. Tokoh-tokoh dalam karyanya menurut Iwan sendiri adalah manusia perbatasan, manusia eksistensialisme. Makanya, ada beberapa kalangan penikmat karya-karya Iwan, menilai karangan-karangan Iwan sulit dicerna. Karangan-karangan Iwan bertokoh manusia-manusia yang tidak masuk akal
atau manusia aneh. Dalam drama Petang di (Dari Berbagai Sumber) |