Seniman Teater

Jajang C. Noer

 

”Orangtua saya memanggil saya ’sayang’, akhirnya saya menyebut diri saya sendiri Yayang (ditulis Jajang),” tutur sutradara dan pemain film bernama asli Lidia Djunita Pamontjak ini. Di sekolah pun, baik sewaktu di Filipina maupun di Jakarta, teman dan guru-gurunya memanggilnya Yayang. Tapi, di rapor, paspor, SIM, rekening bank, yang diterakan nama asli. Setelah menikah dengan sutradara kondang Arifin C. Noer, pada tahun 1978, nama yang tertulis di KTP adalah Jajang C. Noer. Huruf C”singkatan dari Chairin.

 

Sejak berusia lima tahun, putri tunggal Nazir Dt. Pamontjak (alm) duta besar Indonesia untuk Prancis yang pertama—ini sudah berkenalan dengan kesenian. Di Manila, sewaktu ayahnya jadi dubes untuk Filipina, Jajang kecil suka menari tari payung, tari piring, dan sesekali tampil mewakili Indonesia. Waktu SMA, ia suka menonton teater dan belajar gamelan (walau tidak lama), serta ikut drum band dan turut menyambut kedatangan Paus Paulus Yohanes VI di Senayan, Jakarta.

 

Lulus SMA, Jajang sempat kuliah di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia dan pernah pula jadi demonstran Malari tahun 1974. Mulai memasuki teater pada tahun 1972, ia menjadi anggota Teater Ketjil pimpinan Arifin C. Noer. Meski dapat peran kecil-kecilan, pada usia 20 tahun ia sudah tampil di panggung. Ketika Arifin membuat film Suci Sang Primadona di tahun 1977, ia kebagian sebagai pencatat skrip.

 

Setelah diikutkan main di sejumlah film, ia dapat peran berarti di film Bibir Mer, yang mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 1992. Menjadi sutradara, sebelumnya, tak pernah terpikirkan.  Tetapi, setelah suaminya meninggal, ia dengan terpaksa menjadi sutradara. Arifin C. Noer berpulang meninggalkan warisan berupa naskah sinetron Bukan Perempuan Biasa yang baru diproduksi tujuh episode. Setelah mendapat rekomendasi dari penulis naskah Ahmad Yusuf, Jajang melanjutkan proyek tersebut.

 

Pada FSI 1997, sinetron yang dibintangi Christine Hakim itu meraih Piala Vidia sebagai drama seri terbaik. Sejak itu ia kerap dapat order menyutradarai sinetron dan film televisi (FTV). Terakhir ia menyutradarai pementasan lakon Vagina Monolog di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 8 Maret lalu. Jujur pada diri sendiri.”Itu prinsip hidupnya, juga dalam menjalani karir Jajang. ”Percaya pada diri sendiri, apa pun risikonya, kesulitannya dan konsekuensinya”,”ia menambahkan. Jajang hobi membaca. ”Itu yang membuat saya cerah”,”katanya. Untuk memanjakan hobi tersebut, selain penguasaan bahasa Belanda dan Inggris, Jajang menjadi anggota perpustakaan British Council.

 

Di rumahnya yang juga merangkap sanggar seluas 400 meter persegi ia punya perpustakaan pribadi. Dalam mendidik anak-anaknya, ibu dua anak yang sampai saat ini masih menjanda itu berusaha menanamkan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. ”Namun, saya mengajarkan sikap hormat kepada yang lebih tua”,”kata Jajang.

 

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :

Lidia Djunita Pamontjak

 

Lahir :

Paris, Perancis,

28 Juni 1952

 

Pendidikan :

Fakultas Ilmu Sosial

 Universiras Indonesia

 

Filmografi :

Suci (1977),

Yang Muda Yang Bercinta (1977),

Terminal Cinta (1977),

Yuyun (1979),

Serangan Fajar (1981),

Cintaku Di Rumah Susun (1987),

Bibir Mer (1992,

Badut-Badut Kota (1993),

Surat Untuk Bidadari (1994),

Eliana, Eliana (2002),

Durian (2003),

Biola Tak Berdawai (2003),

Joni Be Brave (2003),

Arisan (2003),

Berbagi Suami (2006),

Laskar Pelangi (2008),

Cinta Setaman (2008),

Queen Bee (2009),

Bebek Belur (2010),

Batas (2011),

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011)

 

Penghargaan :

Pemeran Pembantu Terbaik FFI tahun 1992