|
Pantomimer Jemek Supardi Jemek Supardi, lahir di Pakem, Kabupaten Sleman, Keahlian berpantomim ia dapatkan sendiri secara otodidak.
Menciptakan seni dalam bahasa gerak berdasarkan imajinasinya. Tidak ada figur
yang memberi ilmu pantomin kepadanya. Ia hanya rajin menonton pentas pantomim dari luar negeri yang
pentas di Yogykarta, termasuk mpu pantomim Prancis, Marcel Marceau, yang
dikaguminya. Ia sering
berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah
Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan
dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta 1997. Berpakaian kaos hitam-hitam
dan muka putih dia berangkat dari rumahnya di Jl. Katamso dengan naik becak
ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg
mencegat dan menggelandangnya. Ia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit
Pensiun di sepanjang Malioboro, jalan itu pun macet total.
Meski sebenarnya performance art merupakan istilah baru,
karena sebelumnya banyak dilakukan. Tapi Pardi Kampret, nama panggilannya,
berharap, order seperti itu mesti digarap serius sesuai tema, tak sekadar
melumuri tubuh dengan warna. Begitu pula dengan seni on the road yang kini banyak dimanfaatkan untuk promosi. Selama 35 tahun berkesenian banyak karya telah dilahirkan. Mengenai generasi
penerus di dunia pantomim, ia melihat banyak potensi. Ia berharap keinginan
para guru teater lulusan ISI Yogyakarta yang beberapa waktu lalu berkumpul di
Karya seninya dibawakan secara tunggal dan kolektif. Kini, ia
tengah mempersiapkan sebuah karya pantomim tunggal yang bertajuk Buku
Harian Si Tukang Cukur yang merupakan idenya sendiri. Meskipun dia
pernah menjalani kehidupan malam yang kelam, mencopet, mencuri, dan masuk
penjara, pria tamatan Suami dari Reda Maryati ini tampaknya telah menjadikan
seni pantomim sebagai bagian dari hidupnya. (Dari Berbagai Sumber) |
Nama : Jemek Supardi Lahir : Pakem, Sleman, 13 Maret 1953 Pendidikan : SMP, Sekolah Menengah Seni Rupa Karya : Sketsa-sketsa Kecil (1979), Jakarta-Jakarta (1981), Dokter Bedah (1981), Perjalanan hidup dalam gerak (1982), Jemek dan Laboratorium (1984), Jemek dan Teklek Jeme
(1984), Katak Jemek dan Pematung (1984), Arwah Pak Wongso (1984), Perahu Nabi Nuh (1984), Lingkar-lingkar Air (1986), Sedia Payung Sesudah Hujan (1986), Adam dan Hawa (1986), Terminal-Terminal (1986), Halusinasi Seorang Pelukis (1986), Manusia Batu (1986), Kepyoh (1987), Balada Tukang Becak (1988) Halusinasi (1988), Stasiun (1988), Wamil (1988), Soldat (1989), Maisongan (1991), Menanti di Stasiun (1992) Sekata Katkus du Fulus (1992) Se Tong Se Teng Gak (1994) Termakan Imajinasi (1995), Pisowanan (1997), Kesaksian Udin (1997), Kotak-Kotak (1997), Pak Jemek Pamit Pensiun (1997), Badut-badut Republik atau Badut-badut Politik (1998), Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi (1998), Dewi Sri Tidak Menangis (1998), Menunggu Waktu Pantomim
(1998), Yogya-Jakarta di Kereta
(1998), Kaso Katro (1999), 1000 Cermin Pak Jemek (2001), Topeng-topeng (2002), Kaca (2007), Air Mata Sang Budha (2007), Mata-Mati Maesongan 2 (2008), Menunggu (Kabar)
Kematian (2008), Pisowanan (2008), Calegbrutussaurus (2009) Penghargaan : Penghargaan dari Sultan Hamengku Buwono IX |