|
Seniman Teater Jose
Rizal Manua Pertama kali naik
pentas pada 20 Agustus 1969 untuk pentas Agustusan. Lahir di Padang, Sumatera
Barat, 14 September 1954, ia merupakan seniman yang melahirkan banyak sajak humor.
Tatkala dia menggelar pembacaan sajaknya, kalangan seniman lain bertutur
untuk apa kok pakai ditambah humor atau apa itu sajak humor, sajak ya
sajak saja. Tapi ada pesan menyejukkan, kamu teruskan saja, jangan pedulikan
mereka, kata Rendra. Siapa sangka umpatan dan cacian serta hinaan itu
malah berbalik. Ternyata mereka yang mencela saya
justru mengirim sajak-sajak mereka untuk saya bacakan, kata Jose. Sebetulnya
puisi-puisi humor ini juga banyak yang dalam maknanya, tidak sekedar melucu
tetapi sarat dengan kritik sosial dan bahkan religius. Saya yakin puisi-puisi humor akan mendapatkan tempat sendiri
di hati masyarakat kalau kita melihat situasi dan kehidupan yang begitu
kompleks, orang perlu pengendoran otak, jadi tidak melulu tegang. Maka sajak
humor, saya kira merupakan salah satu sarana yang bisa mengantisipasi itu,
jadi ada prospeknya juga dengan puisi-puisi humor, katanya. Saya dulunya pemain bola. Tahun 1966, saya masuk MBFA sebuah
klub sepakbola yang sangat terkenal di
Berbagai lomba baca
puisi di Jakarta baik tingkat DKI Jakarta maupun nasional telah diikutinya
sejak awal tahun 80-an dan selalu menang, sampai pada tahun 1986 para juri
termasuk penyair Sutardji Calzoum Bachri memintanya untuk tidak lagi
mengikuti lomba. Sejak saat itu Jose menempuh hidupnya sebagai deklamator.
Tahun 1988, ia mendirikan Bengkel Deklamasi Jakarta, mendramatisasikan dan
memusikalisasikan puisi diberbagai tampat. Di tahun 1989, ia pernah membaca puisi
keliling ke beberapa kota besar di Indonesia dan Pembacaan Puisi Humornya
mendapat sambutan hangat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan
Malaysia. Jose yang menyukai
fotografi ini masih mengerjakan banyak hal, seperti melatih teater untuk
anak-anak. Sampai sekarang, Jose malah tambah bekibar menancapkan kukunya
pada bidang seni drama dan dunia kepenyairan. Agar kesenian ini
tidak pernah mati, saya juga mendirikan teater anak-anak, yang diberi nama
Teater Tanah Air pada tahun 1988. Disini saya bisa menularkan lewat kesenian,
drama, tari, pantomin, puisi dan menyanyi pada anak-anak sejak dini,
katanya. Pada 5 November 2011 lalu, ia meyelasaikan Program Magister di
bidang Film di ISI Surakarta. (Dari Berbagai Sunber) |
Nama : Jose Rizal Manua Lahir : Padang, Sumatera Barat, 14 September 1954 Pendidikan : STM, Institut Kesenian Jakarta Jurusan Teater (1980-1986), Program Magister bidang Film di ISI Surakarta Kegiatan
lain : Anggota Komite Teater DKJ (2009-2012) Karier : PNS Dinas Pariwisata & Kebudayaan DKI Pengajar Fakultas Teater IKJ (1989-1997), Pengajar FFTV IKJ (2002 s/d sekarang) Perjalanan Karir berteater : 1972-1976, bergabung dengan Teater Wijaya Kusuma pimpinan
Rendra Karno, 1975 s/d sekarang bergabung dengan Teater Mandiri pimpinan
Putu Wijaya, 1975-1981, mendirikan teater anak Adinda bersama Yose Marutha
Effendi, 1977 s/d sekarang bergabung dengan Bengkel Teater Rendra, 1978-1982, menyutradarai Sanggar Pravitasari pimpinan Drs. M.
Masbuchin, 1982-1984, menyutradarai teater anak-anak Gelanggang Remaja
Planet Senen, 1982-1986, menyutradarai Sanggar Legenda, 1986-1992, mendirikan dan menyutradarai Bengkel Deklamasi 1988 s/d sekarang mendirikan dan menyutradarai teater anak-anak,
Teater Tanah Air, 2000 s/d sekarang bergabung dengan Dapur Teater Remi Sylado Penghargaan : Membawa teater Adinda menjadi juara empat kali berturut-turut
Festival teater anak-anak se-DKI (1978-1981), Juara I Festival Pantomim Kelompok se-DKI Juara I lomba baca puisi tingkat Membawa teater anak-anak Gelanggang Remaja Planet Senen
menjadi juara I festival anak-anak se-DKI Bersama Teater Tanah Air meraih 10 medali emas, termasuk
sebagai The Best Performance dan Sutradara Terbaik dalam The Asia Pacific
Festival Of Childrens Theater di Toyama, Jepang (2004), Bersama Teater Tanah Air meraih 19 Medali emas, termasuk
sebagai sutradara terbaik dalam 9th Word Festival Of Childrens
Theater di Lingen ( (2005-2006), Mendapat penghargaan Satyalencana Wira Karya dari Bersama Teater Tanah Air meraih The Best Performance dan
Sutradara Terbaik pada 10th World Festival of Children Theatre di
Moskow, Rusia (2008), Bersama Teater Tanah Air diundang khusus oleh PBB ke Genewa,
Swiss pada 19-27 November 2008, Mendapat Penghargaan Lingkungan Hidup dari Gubernur DKI
Jakarta (2008), Bersama Teater Tana air meraih penghargaan MURI sebagai grup
teater yang memperoleh penghargan internasional terbanyak (2008) Karya
Tulis : Menghayal Jadi Presiden (2008) Filmografi
: Oeroeg, Gordel van Smaragd, Angels Cry, Puisi Tak terkuburkan, Fatahillah, Fik si, Asmara 2 Diana |