Nama : Joseph Ginting Lahir : Kaban Jahe, Sumatera Utara, 23 Oktober Pendidikan : Institut Kesenian
Jakarta jurusan Teater Profesi : Aktor Teater, Sutradara Teater, Dosen IKJ Karier Penyutradaraan
: A Streetcar Named Desire, Teater Lembaga (1995), Julius Caesar, Teater Lembaga
(1997), A Streetcar Named Desire-Pusaran,
Teater Lembaga
(1999), Miss Julie, Teater
Lembaga (1999), Caligula, Teater
Lembaga (2000) |
Aktor dan Sutradara Teater Joseph Ginting “Jangan pernah
lupa pada sumbernya...!” Itulah yang selalu dikatakan laki-laki kelahiran
Kaban Jahe, Sumatera Utara ini. Ia adalah salah seorang lulusan terbaik
Institut Kesenian Jakarta Jurusan Teater ini, ia memang selalu menunjukkan
kesetiaan dan kecintaannya pada dunia panggung teater. Sebelum
merambah ke bidang penyutradaraan, Joseph dikenal sebagai seorang aktor
handal. Tercatat beberapa group teater, seperti, Teater Luwes, Teater Saja, Teater
Kail, Teater NISK, Teater Hitam Putih, Teater Safa, Teater Populer, Teater
Lembaga IKJ, Teater Seroja, Teater Mandiri, Teater Gank, Teater Kecil, dan
Teater Satu Merah Panggung, pernah merasakan kedahsyatan kualitas permainan
dan artistiknya yang prima. Bisa dibayangkan, sudah berapa banyak naskah yang
pernah dimainkannya. Yang jelas, suatu rekor yang dirasa sulit dilakukan oleh
aktor-aktor lain, dia pernah bermain di tiga group yang berbeda dengan tiga
judul naskah yang berbeda dalam satu bulan pada Festival November 1996.
Semuanya menunjukkan kualitas aktingnya yang prima. Dunia
penyutradaraan dirambahnya, dan langsung mendapat pujian, pada tahun 1995
lewat naskah dari Tennessee Williams : A
Streetcar Named Desire (Pusaran) bersama Teater Lembaga IKJ. Kemudian berturut-turut : Julius Caesar bersama Teater Lembaga
tahun 1997, kembali lagi A Streetcar
Named Desire (Pusaran) bersama Teater Lembaga, Juli 1999. Pengajar Seni
Peran ini memang seperti mengikuti jejak gurunya, (alm) Wahyu Sihombing yang
dianggap oleh pengamat teater memiliki kekuatan dalam membuat blocking atau pengadegan panggung
dengan metode atau teori beat. Meski bapak
dua anak ini tidak menempuh jalur penyutradaraan, tetapi dia dinilai memiliki
naluri dan bakat yang kuat dalam mengkoordinasikan para pemain diatas
panggung. Melihat pemilihan naskah-naskah yang dipentaskannya, tampak jelas
laki-laki yang juga sering tampil di sinetron ini lebih senang menggarap
naskah-naskah drama yang mengupas permasalahan psikologis yang memaparkan
manusia-manusia sakit jiwa. “Karena problem manusia itu paling menarik untuk
dibedah, terutama proses mereka menjadi manusia yang sakit,” ujarnya. Meski Terlahir
sebagai pria Batak, pembawaannya halus dan rendah hati. Ia akan tampak tekun
menyimak tiap kali sutradara memberikan pengarahan. Menikah dengan Tuti
Gentini, seorang wartawati yang kini sudah almarhumah. (Dari Berbagai Sumber) |