Nama : Karkono Kamadjaja Partokoesoemo Lahir : 23 November 1915 Wafat : 4 Juli
2004 Karier : Koresponden
pada Harian Oetoesan Indonesia di Yogyakarta, Bekerja di
Harian berbahasa Jawa Sedja Tama Yogyakarta, Bekerja di
majalah berbahasa Jawa Penyebar
Semangat di Surabaya, Bekerja di
majalah berbahasa Belanda Sara Murti
di Solo, Redaktur di
majalah Poestaka Timoer
Yogyakarta (1938-1939), Redaktur
majalah Pertjatoeran Doenia dan Film
di Jakarta (1939-1942), Pemimpin surat
kabar Harian Asia Raya Aktivitas lain : Anggota PNI, Anggota
sekretaris merangkap sekretaris eksekutif Badan Pusat Kesenian Indonesia, Pendiri
Angkatan Moeda Matahari Karya Skenario : Solo di Waktoe
Malam, Miss Neng, Diponegoro, Sampek
Engthay, Koepoe-koepoe, Potong Padi |
Seniman Teater Kamadjaja Bernama asli Karkono Kamadjaja Partokoesoemo. Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 23 November 1915. Ia
adalah salah satu penggerak kemerdekaan Indonesia dan aktif dalam bidang
politik, menjadi anggota PNI. Awalnya ia berprofesi sebagai wartawan.
Pekerjaan ini dijalani dari tahun 1935 sampai 1943. Antara tahun 1935–1936,
Kamadjaja pernah menjadi koresponden pada Harian Oetoesan Indonesia di
Yogyakarta, bekerja di Harian berbahasa Jawa, Sedja Tama Yogyakarta, bekerja di majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat di Surabaya,
bekerja di majalah berbahasa Belanda Sara
Murti di Solo dan menjadi redaktur di majalah Poestaka Timoer Yogyakarta (1938-1939). Karirnya sebagai wartawan terus naik, setelah menjadi
redaktur di majalah Poestaka Timur, ia
kemudian menjadi redaktur majalah Pertjatoeran
Doenia dan Film di Jakarta pada tahun 1939 hingga Jepang tiba pada
awal tahun 1942. Harian Asia Raya adalah
surat kabar yang dipimpinnya pada masa pendudukan Jepang. 6 Oktober 1942, bergabung dengan Badan Pusat Kesenian
Indonesia bersama Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Winarno.
Kamadjaja duduk sebagai anggota sekretaris merangkap sekretaris eksekutif.
Pemerintah pendudukan Jepang yang tidak menghendaki organisasi ini
berkembang, segera membentuk organisasi baru, yang dikendalikan oleh
ahli-ahli seni dari Jepang dan Sendenbu (Departemen Propaganda) dengan nama baru, Keimin Bunka
Shidosho (Pusat
Kebudayaan). Sebagian besar pengurus organisasi
baru ini adalah tokoh-tokoh dari Badan Pusat Kesenian Indonesia. Namun
Kamadjaja dan sahabatnya Andjar Asmara, tidak bersedia duduk di dalam Keimin
Bunka Shidosho, dengan alasan bahwa mereka sedang mempersiapkan
pembentukan Perkumpulan Sandiwara Angkatan Moeda Matahari, yang peresmiannya
hanya lima hari setelah Keimin Bunka Shidosho berdiri. 6 April 1943, bersama Andjar Asmara, ia mendirikan
sebuah perkumpulan sandiwara amatir bernama Angkatan Moeda Matahari di
Jakarta. Kamadjaja duduk sebagai pemimpin dua, mendampingi Andjar Asmara. Ia juga berperan sebagai penulis lakon pada perkumpulan
ini. Lakon-lakon karyanya yang menjadi
’langganan’ untuk dipertunjukan oleh perkumpulan ini di antaranya ’Solo
di Waktoe Malam’, ’Miss Neng’, ’Diponegoro’, ’Sampek Engthay, ’Koepoe-koepoe’
dan ’Potong Padi’. Karena tidak mau tunduk
kepada Jepang, Kamadjaya Sering mendapat tekanan
dari pihak pemerintah pendudukan Jepang melalui Sendenbu dibeberapa pertunjukan perkumpulannya. Seperti ketika
perkumpulan ini melakukan pementasan di Semarang, pemimpin Sendenbu di
kota tersebut yang bernama Yoshida tiba-tiba menghentikan pertunjukan yang
akan dilaksanakan, dan menyuruhnya menghadap ke kantor Sendenbu Semarang. Setelah menghadap dan berdiskusi sedikit di
sana, ia akhirnya di bebaskan dan di perbolehkan main kembali. Tekanan lain yang pernah ia peroleh yaitu ketika pentas
di kota Kediri, Kamadjaja hampir menemui ajalnya karena seorang tentara
Jepang ’meminta’ salah satu artis dari perkumpulan ini. Kamadjaja sedang
berada di Jakarta ketika itu. Andjar Asmara yang memimpin rombongan ini
menolak permintaan seorang serdadu Jepang tersebut, dan akhirnya ia harus
dibawa ke rumah sakit karena mendapat pemukulan oleh beberapa tentara Jepang
lainnya. setelah mendapat kabar, Kamadjaja langsung berangkat ke Kediri.
Ketika ia tiba di sana, Kamadjaja langsung dibawa oleh tujuh orang anggota Kempetai dengan sebuah mobil. Kamadjaja dibawa ke kantor Kempetai Kediri. Sesampai di sana, ia dibawa kesebuah lapangan di
belakang kantor tersebut. Kemudian ia dipukuli oleh lima anggota Kempetai, tetapi dalam perkelahian
yang tidak seimbang itu Kamadjaja berusaha untuk membela diri. Ia tidak
menyerah ketika dipukuli habis-habisan, tetapi melawan dengan menangkis.
Kejadian yang tak terduga terjadi ketika salah seorang Kempetai yang sepatunya penuh
dengan paku, ia dorong sehingga terjatuh. Kempetai tersebut justru membungkukkan tubuhnya dan
mengucapkan, ”Arigato gozaimasu!
Terima kasih!”, kemudian
membebaskannya. Sepak terjang Kamadjaja yang ’bandel’ tidak hanya berhenti
sampai di sini saja. Ia bahkan pernah nekad mengubah isi lakon teater yang
telah diatur oleh Sendenbu dan
POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) ketika Tjahaja Timoer (perkumpulan
perubahan dari Angkatan Moeda Matahari) mementaskan Lakon ’Petjah Sebagai
Ratna’, karya Kotot Soekardi. Lakon tersebut dirubahnya agar menjadi sebuah
lakon yang baik dan menarik. Hinatsu Eitaroo, ketua POSD, marah ketika
mengetahui cerita-ceritanya dirubah-ubah, sampai ia membenci Kamadjaja.
Tetapi setelah ia menyaksikan pertunjukannya, ia tidak berkata apa-apa lagi. Di dunia teater, Kamadjaja benar-benar telah menjadi
seorang raja di atas panggung. Raja yang berani mengambil resiko, walaupun
nyawa menjadi sebuah taruhan. Kamadjaja wafat pada tanggal 4 Juli 2004. walau
begitu semangat dan ide-ide tentang kesenian Indonesia yang luhur, dan
kemajuan teater Indonesia tidak akan pernah mati. (Dari Berbagai Sumber) |