Nama : Mohammad Arifin Lahir : Nusa
Tenggara Barat, 18
Agustus 1939 Wafat : Mojokerto,
Jawa Timur, Pendidikan : SD dan
SMP SMA di
Yogyakarta Hubungan
Internasional UGM ( IKIP
Mataram jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (NTB) Karier : PNS
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Mataram Lombok, NTB Aktivitas Lain : Pembina
seni drama/teater pada beberapa SMA dan Fakultas di Mataram, Pemimpin
dan Sutradara Teater Gugus Depan Mataram, Rdaktur
Harian Media, Redaktur
Budaya Harian Suara Nusa ( Koresponden
Tempo untuk Juri
dan Kurator Festival Teater, Penulis
Karya Naskah/buku : Putri
Mandalika (naskah drama), Matinya
Demung Sandubaya Petunjuk
Teknis Penilaian/Pengamatan Lomba/Festival Teater, Bidang Kesenian, Depdikbud
NTB (1985), Tumbal
Kemerdekaan (naskah drama, 1987), Teknik
Penyutradaraan (stensilan FKIP Unram, Mataram) Teknik
Baca Puisi, sebuah Pengantar, BKKNI, NTB (1990), Teater,
Sebuah Pengantar (1990), Balada
Sahdi Sahdia (naskah
drama1992), Antonin Artaud, Ledakan dan Bom (2006), Karya buku/puisi/cerpen Terjemahan : Nyanyian
Laut (The
Sound of Waves, 1976), Seribu
Burung Bangau (Thousand Cranes, 1978), Pengembaraan
(Walkabout,
1978), Orang
Aneh (The
Stranger, 1980) Kecantikan
dan Kesedihan (The Beauty and Sadness, 1983), Pemberontak
(The
Rebel, 2000) Seratus
Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude, 2003), The
Shifting Point - Teater, Film dan Opera (2002), Menuju
Teater Miskin (Towards
a Poor Theatre 2002) Teori-teori
Drama Brecht Kemelut
(The Blind Owl), Suatu
Salah Paham, Oedipus
Sang Raja, Sasmita-Larasmara, Mawar
Dalam Puisi
dan cerpen dari Timur Tengah |
Seniman
Teaer Max Arifin Terlahir dengan nama Mohammad Arifin di Sumbawa Besar, Nusa
Tenggara Barat, 11 Agustus 1939. Menempuh pendidikan SD dan
SMP-nya di Sumbawa Besar, NTB dan melanjutkan ke jenjang SMA di Yogyakarta.
Setamat dari SMA, melanjutkan ke Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
pindah ke IKIP Mataram
mengambil jurusan bahasa dan sastra Inggris namun tidak ia
tamatkan. Bekerja di Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Nusa Tenggara Barat pada Bidang Kesenian,
seksi drama dan sastra (tradisional dan modern). Selama masa tugasnya, pernah
tiga kali ia mengikuti penataran seni drama di Cisarua dan Cipayung yang
diselenggarakan oleh Depdikbud. Pernah menjadi redaktur harian Media (terbitan
IPMI Cabang Mataram), redaktur budaya di harian Suara Nusa (sekarang Lombok
Post) sekaligus merangkap koresponden majalah Tempo untuk Banyak mengikuti berbagai pertemuan
dan seminar yang berkaitan dengan kesenian dan teater, diantaranya :
Pertemuan Teater Penyusunan Materi Ketrampilan Seni Teater di Ambarawa (1977)
yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud, Jakarta, Seminar Teater di
Bandung (1978), juga diadakan oleh Direktorat Kesenian, Depdikbud. Peserta
Art Summit 1997 di Jakarta, Peserta Seminar Pendekatan Kebudayaan dalam
Pembangunan Jawa Timur, 8 Juli 2003 di Jember, Peserta Temu Sastrawan
se-Jatim, September 2003. Menjadi pembawa berbagai makalah
dan menjadi Selain dikenal sebagai penggiat teater, Max, juga
dikenal sebagai penerjemah buku, berawal sekitar tiga puluh tahun yang lalu
ketika seorang wartawan Kompas bernama Trees Nio yang datang mengunjungi
Dirman Toha, sahabat Max Arifin, yang merupakan koresponden Kompas di
Mataram. Saat itulah Trees Nio melihat dua naskah novel terjemahan karya Max
Arifin, Walkabout, karya James
Vance Marshall dan The Sound of Waves, karya Yukio Mishima. Trees Nio
langsung tertarik membawanya ke Karya-karya naskah/ buku yang pernah ditulis Max Arifin
banyak yang dijadikan cerber di sejumlah koran harian yang terbit di negeri
ini. Selain dua karya yang telah disebut tadi, masih ada Kecantikan dan Kesedihan
(terjemahan dari naskah The Beauty and
Sadnes, karya Yasunari Kawabata) yang juga menjadi cerber di Kompas pada
tahun 1984. Selain itu, masih ada lagi, Matinya Demung Sandubaya
yang menjadi cerber di harian Suara Nusa (Mataram), Kemelut (naskah terjemahan dari The Blind
Owl, karya Sadeq Hedayat) yang menjadi cerber di Surabaya Post; serta Seratus
Tahun Kesunyian (naskah terjemahan dari One Hundred Years of
Solitude, karya Gabriel Garcia Marques) yang menjadi cerber di Jawa Pos
(1997). Kendati demikian, telah banyak karya yang dihasilkannya, Max Arifin
tidak mau disebut sebagai sastrawan. “Saya ini orang teater, bukan sastrawan”, ujarnya. Karena kebanyakan karyanya, baik itu yang
terjemahan maupun tidak, sebagian besar adalah tentang drama/teater. Sampai hari ini, sedikitnya Max arifin telah menghasilkan
34 karya buku. Jumlah itu belum termasuk beberapa puisi dan cerpen dari timur
tengah yang juga sempat diterjemahkannya. Memang, sebagian besar dari total
karyanya itu, 26 di antaranya adalah karya terjemahan, termasuk tujuh
karyanya yang belum diterbitkan, Suara yang Lain (dari buku The
Other Voice, karya Octavio Paz), Surat-surat Negro (The Fire Next
Time, karya James Baldwin), Teater Politik (Political Theatre,
karya David Goodman), Teater dan Kembarannya (Theatre
and it’s Double, karya Antonin Artaud), Masalah-masalah Seni (The Problems
of Art, karya Susanne K. Langer), Kapal Orang-orang Bodoh (Ship of
Fool, dari karya Christiana Perri Rossi) dan Hidupku dalam Seni (My
Life in Art, karya Konstantin Stanislavsky). Penggiat teateryang sudah aktif di
dunia teater sejak masih duduk dibangku SMa ini meninggal dunia karena sakit
di Rumah sakit Sido Waras, Bangsal, Kabupaten Mojokerto,
1 Maret
2007. (Dari Berbagai
Sumber) |