|
Seniman Teater Saini
K.M Lahir di Kampung Gending, Desa Kota Kulon, Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938, anak kedua dari
sepuluh bersaudara itu sudah sejak
kecil, berada dalam lingkungan pencinta seni. Masyarakat tempat di mana keluarganya
tinggal, hidup sebagai perajin membuat barang-barang kerajinan yang terbuat dari tembaga, besi, kuningan, emas, dan perak.
Ayah dan
kakek saya perajin perhiasan emas, katanya.
Jika malam tiba, kampung itu sesuai dengan
namanya, berubah menjadi kampung seni yang hampir tidak mengenal sepi. Masyarakatnya giat berkesenian. Sejak petang hingga larut malam selalu terdengar bunyi tetabuhan. Kakek saya
memainkan gambang, sedangkan ayah saya pemain kecapi dan suling. Ia
memiliki kelompok pemain kecapi-suling, katanya mengenang masa kecilnya. Karena rumah kakeknya cukup luas dan
memiliki seperangkat
gamelan, Saini kecil ikut menabuh gamelan, celempungan atau waditra (instrumen) lainnya. Pengalaman bathin itu pula yang kemudian membawanya sebagai pemain musik, bahkan di daerah
asalnya ia lebih dikenal sebagai musikus. Namun, karena sering bermain malam hari, daya
tahan fisiknya menurun sehingga ia harus meninggalkan
kesenangannya. Alumnus Jurusan
Sastra Inggris Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang menjadi
cikal bakal Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(IKIP) Bandung yang kemudian
berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu,
atas saran gurunya dari Inggris, William Philips
Payne, memilih puisi sebagai bidang yang digeluti. Tidak mungkin menggeluti
begitu banyak pilihan, katanya.
Puisinya pertama kali dimuat di majalah
Siasat
pada tahun 1960. Ketika itu, Kecintaan Saini
KM kepada puisi sangat boleh jadi tidak bisa
dilepaskan dari pengaruh yang diterima pada masa kecilnya.
Ia masih bisa mengenang dengan segar bagaimana ayahnya membacakan macapat sehingga tanpa disadari ketajaman rasa keindahannya makin terasah. Ketika menjadi mahasiswa, ia sering membacakan
dan mendeklamasikan puisi-puisi karya Amir Hamzah, Sanusi Pane, Sitor Situmorang, dan W.S Rendra. Kecintaan itu masih berlanjut, terbukti ketika pematung dan perupa Sunaryo menyelenggarakan upacara pelepasan selubung hitam patung-patungnya sebelum dipamerkan di Amerika Serikat.
Seperti pengalaman di masa mudanya,
malam itu seorang ibu tak
mampu menahan rasa harunya setelah mendengar Saini K.M mendeklamasikan sajak-sajaknya. Dalam bidang puisi, Saini K.M memang sering dianggap guru yang banyak membidani penyair-penyair muda di Di kemudian
hari, himpunan tulisan-tulisan tersebut dibukukan Agus R. Sardjono dengan judul Puisi
dan Beberapa Masalahnya tahun 1995. Minatnya yang besar pada teater telah
mendekatkan dirinya dengan Studiklub Teater Bandung (STB) dan kemudian menulis naskah drama dan sandiwara. Lima Orang
Saksi yang mengantarkan dirinya meraih penghargaan SEA Write Award pada
tahun 2001, merupakan
kumpulan dari Dua dari
lima naskah drama tersebut,
Ben Go Tun merupakan
naskah drama pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1977 dan 1978, sementara Madegel
sendiri
pernah dipentaskan di Jepang pada
tahun 1987. Pada setiap pementasan karya-karyanya, Saini K.M selalu berusaha menyaksikan. Yang ditonton bukan hanya pagelarannya,
tetapi juga bagaimana sikap penonton. Saya menonton para
penonton, katanya. Dalam usianya
yang sudah mencapai di atas 60 tahun
itu ia masih terus aktif
dalam berbagai kegiatan sosial dan ilmiah. Usia
sama sekali tidak mengurangi semangatnya menulis. Kadangkala sampai lewat tengah malam ia masih
bekerja menghadapi layar monitor komputer. Tadi malam
sampai pukul 01.00, katanya. Sastra lakon
karya Saini K.M yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina
tahun 1980 memenangkan hadiah dalam Sayembara penulisan yang diadakan oleh Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) Jakarta Raya. Esai tentang
teater yang ditulis Saini K.M terhimpun dalam buku Beberapa Gagasan Teater
terbitan Nurcahaya tahun 1981. Dramawan dan Karyanya terbitan Angkasa tahun 1985. Teater Modern dan Beberapa Masalahnya terbitan Binacipta tahun 1987. Peristiwa Teater terbitan ITB tahun 1996. Pada tahun 1999 terbit himpunan karya lakonya Ben Go Tun, Dunia Orang
Mati, Madegel, dan Orang Barudalam
satu judul Lima Orang Saksi. Himpunan karya lakon itu
diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku pada tahun
2000. Madegel pernah dipentaskan di Jepang pada tahun
1987. Ken Arok
dan Sepuluh Orang Utusan telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Jerman oleh Renate Sterngal. Bersama Jakob Sumardjo, Saini K.M menulis buku Apresiasi Kesusastraan terbitan Gramedia tahun 1986 dan Antologi Apresiasi Kesusastraan
yang juga dterbitkan oleh Gramedia ditahun 1986 untuk siswa sekolah menengah lanjutan atas. Selain itu, ia juga
menulis buku untuk anak-anak, yaitu Cerita Rakyat Jawa Barat
terbitan Grasindo tahun 199). Pada tahun 19601994 Saini menjadi pengasuh kolom puisi harian
umum Pikiran Rakyat. Berbagai tulisan kritisnya tentang puisi karya penyair muda yang dimuat harian Pikiran Rakyat itu diterbitkan
dalam bentuk buku dengan judul
Puisi dan Beberapa Masalahnya terbitan ITB, tahun 1993. Berkat kegiatannya yang tidak pernah lelah dalam mengasuh
para penyair remaja, Saini mendapat Anugerah Sastra dari Yayasan
Forum Sastra Bandung pada tahun 1995. Pada tahun
1988-1995 Saini
dipercaya menjadi Direktur ASTI Bandung (serkarang STSI). Selepas itu, pada tahun
1995-1990, Saini
K.M menjabat Direktur Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depdikbud. Saini K.M juga tercatat sebagai anggota Konsorsium Seni sejak tahun
1994 dan sebagai anggota Komisi Disiplin Seni sejak tahun 1999. Ia juga aktif
dalam penyelenggaraan Art
Summit (Dari Berbagai
Sumber) |
Nama : Saini Kosim Lahir : Kampung Gending, Desa
Kota Kulon, Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938 Pendidikan : Jurusan Bahasa
dan Sastra Inggris IKIP Profesi : Penulis, Dosen STSI Kegiatan Lain : Anggota DPR Jawa Barat (1967-1971), Direktur Akasemi Seni
Tari Direktur Kesenian Direktorat
Jenderal Kebudayaan Depdikbud (1995-1999), Wakil Pimpinan Umum
Pengasuh rubrik sastra
Kuntum Mekar dan Pertemuan Kecil di harian
Pikiran Rakyat, Karya : Prosa :
Puragabaya (1976), Cerita Rakyat
Jawa Barat (1993), Berkas yang Hilang
(2001) Drama :
Pangeran Geusan
Ulun (1963), Pangeran Sunten
Jaya (1973), Ben
Go Tun (1977), Siapa Bilang
Saya Godot (1977), Restoran Anjing
(1978), Egon (1978), Kerajaan Burung
(1980), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Serikat Kacamata
Hitam (1981), Sang
Prabu (1981), Pohon Kalpataru
(1981), Panji Koming
(1984), Madegel (1984), Amat Jaga
(1985), Ken
Arok (Balai Pustaka (1985), Syekh Siti Jenar (1986), Dunia Orang-Orang
Mati (1986), Ciung Wanara
(1992), Damarwulan (1995), Karya Terjemahan :
Percakapan dengan
Stalin (karya Milovan Djilas), Bulan di Luar Penjara (karya Ho Tji Minh), Karya Nonfiksi :
Protes Sosial
dalam Sastra (1983), Beberapa Gagasan
Teater (1981), Dramawan dan Karyanya (1985), Teater Modern dan
Beberapa Masalahnya
(1987), Apresiasi Kesusastraan
(bersama Jakob Sunardjo, 1986), Antologi Apresiasi
Kesusastraan (bersama Jakob Sumardjo, 1986), Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993), Peristiwa Teater
(Penerbit ITB, 1996), Seni Teater
1-6 (bersama Ade Puspa dan Isdaryanto,
1989 dan 1990) Penghargaan
: Hadiah
Sayembara Penulisan Drama
Anak-Anak Direktorat Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980, Hadiah Sayembara
Penulisan Drama DKJ (1973, 1977, 1978, 1980, dan 1981), Hadiah Sayembara
Bakom PKB DKI Anugerah Sastra
dari Yayasan Forum Sastra Bandung (1995), Penghargaan Penulisan Karya
Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1991), Penerima
Hadiah Sastra (SEA Write Awards 2001) |