Nama : 19 Juni
1958 IKJ jurusan
Sinematografi (1980-1994), Jakarta-Jakarta, Cerpen Pelajaran
Mengarang terpilih menjadi Cerpen Terbaik Kompas 1993, Cerpen Saksi
Mata Mendapat Dinny O’Hearn
Prize for Literary (1997), Cerpen Cinta Di
atas Perahu Cadik terpilih menjadi cerpen terbaik Kompas 2007 Karya Sastra
: Saksi Mata (1987), Pelajaran Mengarang (1993), Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar
Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999) |
Sastrawan Seno
Gumira Ajidarma Sastrawan
yang satu ini adalah sosok pembangkang. Ayahnya, Prof. Dr.
MSA Sastroamidjojo, guru besar
Fakultas MIPA Universitas
Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk
pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek
amat, ia tak suka aljabar,
ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu
Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak
teman-temannya tidak ikut kelas wajib
kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak tidak mau pakai ikat
pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia
pakai batik, yang lain berambut
pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,””kenang
Seno. Imajinasinya liar. Setelah
lulus SMP, Seno tidak mau
sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Selama tiga bulan, ia
mengembara di Jawa Barat, lalu
ke Sumatera berbekal Tertarik puisi-puisi Mbeling-nya Remy Sylado di majalah
Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya
besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli.
Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra
Horison dan tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison.
Sejak itu aku merasa sudah
jadi penyair,””kata Seno bangga. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang
teater. Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia
19 tahun dan untuk itu ia
butuh uang. Tahun itu juga
Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,””ujar pengagum
pengarang R.A. Kosasih ini. Kalau sekarang
ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya.
Seniman
yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya
karya maka aku buat karya,””ujar Seno disusul tawa terkekeh. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa
media Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea
Write Award. Berkat cerpennya
Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’’’Hearn
Prize for Literary, 1997. Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat
Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga
kini ia membuat komik. Baru saja ia
membuat teater. Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni ketika dia naik
taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir, si sopir disuruhnya
tidur. (Berbagai Sumber) |