|
Seniman Teater Slamet Rahardjo Nama panggilannya
Memet. Waktu sekolah ia paling anti diajak deklamasi atau main sandiwara. “Kalau disekolah ada latihan, lampu saya padamkan”, katanya. Kini Slamet Rahardjo adalah seorang sutradara. Film
pertama yang disutradarainya, Rembulan dan Matahari, meraih
tiga Piala Citra di FFI tahun 1980 di Tentu, ia harus
bersusah payah dahulu untuk meraih kedudukan itu. Sebelumnya, anak mayor
udara dan cucu Asisten Bupati Serang itu harus puas dengan posisi sebagai
anak bawang di Teater Populer, pada tahun 1969. Karena kesungguhannya, ia
bisa naik panggung dalam pertunjukan drama Pernikahan Darah, Kopral Woyzek,
dan Perhiasan Gelas.
Semasa kecil, Memet
pernah bercita-cita menjadi presiden RI. Tetapi ketika tamat SMA di
Yogyakarta, tahun 1967, cita-citanya turun” menjadi penerbang. Ia mengikuti
tes dan lulus. Sayang, ayahnya tak menyetujui sehingga ia sempat frustasi dan
malu diejek teman-temannya Ia lalu pindah ke Anak sulung dari
tujuh bersaudara itu menikah pada bulan September tahun 1984. Ia
mempersunting putri bungsu Ilen Suryanegara, Duta besar RI untuk Aljazair. “Saya Menikah tepat dengan dateline yang diberikan orang
tua”, kata Memet lagi. Kini setelah berhasil menjadi pemain
terbaik dan sutradara terbaik, cita-citanya adalah menjadi suami dan ayah
terbaik. Ia agaknya tak ingin mengulang tragedi perceraian orangtuanya,
Djarot Djojoprawiro dan Ennie Tanudiredja.*** (Dari Berbagai Sumber) |
Nama : Slamet Rahardjo Djarot Lahir : Serang, Banten 21 Januari 1949 Profesi : Aktor dan Sutradara Kegiatan lain : Dosen Penyutradaraan FFTV-IKJ Ketua Umum Karyawan Film dan Televisi (1995-1999), Ketua Komisi Budaya Badan Pertimbangan Film Nasional/BP2N
(1985-1998), Ketua Yayasan Teater Populer, Direktur Utama PT Ekapraya Tatacipta Film, President of CAPA (Cilect Asia- Pasific Association) Pendidikan : SD (1959), SMPN VIII SMAN TG Pandan (1967), Akademi Film Nasional Jayabaya - Kamera (tidak selesai 1968), Akademi Teater Nasional Filmografi : Wadjah Seorang Lelaki (1971), Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Perkawinan Dalam Semusim (1976), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Rembulan dan Matahari (1979), Seputih Hatinya Semerah Bibirnya (1981), Dibalik Kelambu (1982), Ponirah Terpidana (1983), Kembang Kertas (1984) Kodrat (1986),, Tjoet Nya Dhien (1986), Kasmaran (1987), Langitku Rumahku (1989), Kantata Takwa (1990) Mirage (1992), Anak Hilang (1993), Marsinah (2000), Suro Buldog (2004), Banyu Biru (2004), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007), Laskar Pelangi (2008), Cinta Setaman (2008), Bahwa Cinta Itu Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010), Sang Pencerah (2010), Kabayan jadi Milyuner (2010), Sang Penari (2011) Sinetron : Suro Buldog (1994), Demi Cinta dan Anakku (1995), Oh Ibu dan Ayah Selamat Pagi (1997), Istri Pilihan (1977) Karya
Teater : Sutradara Sandiwara Rambut Palsu, Sutradara sandiwara It Should Happen To a Dog, Sutradara sandiwara Laddy Aoi, Sutradara sandiwara Perempuan Pilihan Dewa, Sutradara Sandiwara Dag Dig Dug, Sutradara sandiwara Pakaian dan Kepalsuan Penghargaan : Aktor Terbaik FFI 1975 dalam Film Ranjang Pengantin, Aktor Terbaik FFI 1983 dalam Film Dibalik Kelambu, Sutradara Terbaik FFI 1985 dalam Film Kembang Kertas, Best Scenario Writer Festival Film Non-Blok (1985), Sutradara Terbaik FFI 1987 dalam Film Kodrat, Sutradara Terbaik FFI 1989 dalam Film Langitku Rumahku, Film Langitku Rumahku menang di Festival International Des
Trois Continent, Film Langitku Rumahku meraih Best Children Film, Melbeourne
Film Festival (1991), Film Langitku Rumahku meraih Unicef Award dalam Film Langitku Rumahku meraih Bronz Award Hadiah Usmar Ismail 1996 dari BP2N, Sutradara Terbaik Bali International Film Festival (2003), Satya Lencana Kebudayaan RI (2004), Film Dokumenter Kantata Takwa yang dibuat bersama Erros Djarot
Gotot Prakosa meraih penghargaan Golden Hanoman dan Geber Award pada Jogja
Netpac Asian Film Festival 2008, Anugerah Akademi Jakarta 2008, Anugerah Federasi Teater Indonesia 2009 |