Seniman Teater

Suyatna Anirun

 

 

Suyatna adalah seorang tokoh seni teater modern Indonesia. Ia bersama enam temannya, yaitu Jim Adilimas, Gigo Pudi Satya Raksa (alm), Adrin Kahar, Sitarjo Wiramiharja, Tien Sukartini, dan Suharmono Tjro Suwarno, mendirikan Studi Teater Bandung (STB) pada 30 Oktober 1958 sebagai bukti kecintaanya pada dunia seni teater. Ia sendiri sudah menekuni dunia seni panggung sejak tahun 1955. Dari masa ke masa, tidak perduli perubahan politik yang sedang terjadi di negeri ini, STB tetap mementaskan lakon-lakon yang di adaptasi di atas panggung.

 

Sehari-hari, ia cenderung pendiam. Tutur sapanya pun perlahan. Senyum tipis, anggukan, atau tawa kecil yang terasa malu-malu, menjadi bagian yang karib penampilannya. Itulah Suyatna Anirun, sosok yang sehari-hari pendiam, tetapi seketika bisa menjadi macan garang, bila di panggung. Di tangannya, sebuah peran bisa menjadi sangat hidup. Lihatlah, bagaimana ia muncul sebagai raja Lear dalam lakon King Lear beberapa tahun lalu. Peran ini, bukan saja ia mainkan sangat bagus, tapi menjadi salah satu puncak pencapaian seni akting di negeri ini. Suyatna bukan sekedar aktor. Iapun sutradara sekaligus salah seorang tokoh terkemuka teater modern Indonesia. Kepiawaiannya sebagai seniman teater, dan dedikasinya bagi kemajuan teater modern Indonesia, tak perlu di ragukan. Anak kesembilan dari sebelas saudara ini, sesungguhnya tidak pernah mengangankan menjadi seniman. Semula, cita-citanya menjadi Insinyur. Bahkan awal-awal ia berkenalan dengan kesenian berawal dari kecelakaan tak disengaja.

 

Pada masa SMA Suyatna mulai serius menekuni dunia kesenian. Mula-mula dengan menulis puisi dan mengirimkannya ke media massa. Kegemaran menulis puisi, mendorongnya mengakrabi seni. Lebih-lebih ketika itu minat kaum muda sebaya Suyatna terhadap sastra begitu besar. Tak lama kemudian ia pun meminati drama.

 

Pada usia 19, ia pun mulai naik panggung sebagai pemeran, memainkan tokoh orang tua dalam lakon Awal dan Mira karya Utuy T. Sontani. Debutnya di bidang drama kian memekar saat ia kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB. Saking setia kepada teater, Suyatna pun mengorbankan kuliahnya. Kendati berhasil memimpin kelompok teater yang cukup tua di Indonesia dan setia berproduksi saban tahun ia enggan membusungkan dada, menerima pujian. Popularitas itu memang penting, tapi itu bukan tujuan. Saya tidak pernah mengharamkannya, namun saya juga tak mencari hal itu dengan berteater, katanya. Suyatna Anirun adalah seniman yang bisa menerima kritik. Karya itu telanjang, ia sudah berbicara sendiri tanpa harus dibicarakan, kita tidak bisa melarang orang berpendapat lain, atau tidak menyukai apa yang kita tampilkan, ini dalihnya dalam menanggapi kegencaran kritik.

 

Suyatna sebagai seorang aktor, kurang lebih setara dengan Teguh Karya. Seniman teater kawakan Indonesia, seperti Arifin C Noer dan Teguh Karya, menilai keaktoran kang Yatna adalah cermin dari sikap berkeseniannya yang amat peduli terhadap pengembangan diri. Yakni, pengembangan yang tergantung pada keberadaan pribadinya, bakat, kerja keras, pengabdian dan kreativitas. Dalam kesehariannya, Suyatna Anirun hadir sebagai pria yang santun, sabar, tak neko-neko layaknya seniman kebanyakan, dan pendiam. Tapi dalam diamnya, Suyatna banyak menyimpan kegelisahan. Itulah kegelisahan terhadap teater. Hidupnya adalah teater. Karena itu, meski dokter menganjurkan untuk lebih banyak beristirahat karena sakitnya, ia tetap melakukan aktivitas panggung. Pada jum’at dinihari, sekitar pukul 01.50 wib tanggal 4 januari 2002 ia menghembuskan napas terakhir di kamar 3116 Yosep 3 RS. Borromeus, Bandung karena mengidap kanker pankreas dan gula. Ada obsesi Suyatna yang belum terwujud ia ingin mementaskan lakon Street Car Named Desire.***

 

(Dari berbagai sumber)

Nama :

Suyatna Anirun

 

Lahir :

Bandung, Jawa Barat

19 Juli 1936

 

Wafat :

Bandung, Jawa Barat

4 Februari 2002

 

Pendidikan :

Seni Rupa ITB Bandung

 

Profesi :

 Dosen di STSI Bandung, Jurnalis Kompas 1966,

Redaktur Kebudayaan Harian Pikiran Rakyat di Bandung (1974),

Redaktur budaya Tabloid Mitra Desa

 

Penghargaan :

Anugerah Seni untuk bidang teater dari menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1993)


Karya :

Tabib Tetiron (1976),

Karto Loewak( 1973),

Badak-badak (1984),

Rabu Randu Mulus(1980),

King Lear (1987)