|
Pelukis
Tisna Sanjaya
Tisna Sanjaya dilahirkan di Bandung pada tahun 1960. Bakat seni Tisna
terlihat sejak kecil. Ia sering
menggambar di tembok-tembok rumah. Kendati orangtuanya pedagang ayam namun mereka sangat mendukung bakat seninya. Ini karena lingkungan
rumahnya tak jauh dari kesenian.
Waktu SMP, dia
juara menggambar di sebuah lomba
yang diadakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Meski juara satu, nilai
menggambar di rapornya mendapat lima. Ini karena ada
temannya yang menukar dengan paksa gambarnya ketika ujian untuk dinilai,
sehingga gambar jelek temannya itulah yang diterimanya.
Masa sekolah banyak dihabiskannya di Jalan Braga, pengagum lukisan-lukisan Chan Tanjung, Rusli, dan karya-karya Moi Indie lainnya.
Bahkan lukisannya yang memenangkan lomba BKKBN meniru gaya Rusli.
Berkuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan
jurusan seni rupa selama dua
tahun dan dilanjutkannya ke ITB selama 1979-1986. Di ITB inilah ia berkenalan
dengan dunia happening
art dari kelas eksperimen kreatif yang diajarkan G. Sidharta.
|

Seniman
Utopia,
Akrilik
charcoal diatas kanvas,
130 x 120 cm,
2008
|
Setelah menyelesaikan
S2-nya di
Jerman, ia meneruskan
program lanjutan untuk
S3 di tempat yang sama pada 1997-1998. Sejak lulus dari Seni Rupa
ITB (1986) Tisna sangat
produktif berkarya dan aktif berpameran
baik tunggal maupun kelompok. Karena aktivitas dan intensitas berkaryanya, serta terobosan kreativitasnya sosok Tisna Sanjaya dan karya-karyanya banyak mengundang perhatian dan kupasan para pengamat seni rupa di
Indonesia.
Wacana berkarya
yang dikembangkan Tisna
banyak ditanggapi, diikuti dan dinegasi oleh seniman-seniman lainnya terutama generasi yang lebih muda. Sejak 1995-an Tisna banyak mendapat perhatian dari para pengamat
seni rupa Indonesia dan bahkan internasional karena karya-karyanya banyak mengungkapkan tema-tema kepincangan sosial dan politik di Indonesia, terutama semasa Soeharto masih berkuasa. Karya-karya Tisna pada masa itu
cenderung ke seni abstrak yang menjauhkan diri dari realitas sosial dan lebih berorientasi pada persoalan dalam diri (mikrokosmos) senimannya, atau tema-tema yang
universal.
|
Tisna melakukan
terobosan dengan mendobrak tradisi formalisme seni grafis di ITB, dengan mulai membuat karya-karya bertema permasalahan sosial politik di Indonesia.
Dari semua itu tampaknya yang masih tetap ia perjuangkan
adalah perlawanan terhadap kekerasan.
Tisna juga selalu perduli terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Seperti ia menyertakan karyanya didalam pameran solidaritas untuk sang empu tari Mimi Rasinah”yang terbaring sakit serta korban musik Underground di bandung
2008. Selain aktif dalam senirupa, Tisna juga di
daulat memerankan sosok kabayan dalam acara di
televisi setempat di Bandung, STV yang mengangkat kenyataan sehari-hari yang dialami warga. Ia tertarik
memerankan tokoh kabayan karena sejak kecil ia
suka kabayan selain Batman, Zoro, dan tarzan. Ia
ingin memerankan tokoh Zoro sang pembela rakyat yang tertindas dalam konteks di tatar
Sunda.
(Dari Berbagai Sumber)
|
Nama
:
Tisna Sanjaya
Lahir
:
Bandung,
Jawa Barat
28 Januari 1958
Pendidikan
:
Jurusan Seni Rupa
IKIP
Bandung,
Jurusan Seni Rupa
ITB
Bandung
(1979-1986),
Diplom Freie Kunsthochschule Fuer Bildende Kuenste Braunscheweig
(1991-1994),
Meister
Schueler by Prof. Karl-Christ Schulz (DAAD
fellowship) HBK Braunschweig Jerman
(1997-1998)
Profesi :
Seniman,
Pengajar di ITB
Penghargan :
Program
artist in residencies di HBK Braunschweig
Jerman
(1987-1988),
Program
artist in residencies di National Art Gallery
Kuala Lumpur,
Malaysia
(1989),
Program
artist in residencies di Utrecht, Belanda
(1996),
Program
artist in residencies di Ludwig Forum for
International Art Aachen, Jerman
(2001)
|