|
Seniman Teater Wisran Hadi Dikenal juga sebagai
seorang sastrawan. Lahir di Lapai, Masa kecilnya banyak
dipengaruhi oleh kesenian Minangkabau tradisional, seperti pertunjukan randai
dan cerita rakyat Minangkabau. Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan
menengah di Dia tidak hanya
menggeluti dunia lukis dan sastra, tetapi juga memasuki dunia akting
dan aktif di berbagai kegiatan kesenian, baik tingkat daerah maupun nasional.
Hobinya sebagai penulis membuahkan hasil sebagai penulis drama terkemuka di Istrinya, Upita
Agustina, juga seorang penyair. Mereka dikaruniai
Wisran pernah
menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah
drama Senandung Semenanjung, Dara Jingga, Gading Cempaka dan Cindua
Mato yang membuatnya mendapat penghargaan SEA Write Award 2000.
Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Iman, Empat
Sandiwara Orang Melayu dan Simpang. Cerpen-cerpennya
kerap dipublikasikan di media cetak dan dibukukan penerbit Pernah mendapat
Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya buku
dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat
Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada Pertemuan
Sastrawan Nusantara 1997. Karyanya dikenal sangat kritis termasuk dalam
menulis tentang permasalahan budaya dalam masyarakatnya. Misalnya pada karya
dramanya yang berjudul Cindua Mato yang menggambarkan tentang
figur Bundo Kanduang sebagai figur agung masyarakat Minangkabau. Juga karya
dramanya yang lain Tuanku Imam Bonjol dengan sisi kepahlawanan
dan kelemahannya. Sejak 2001 sampai 2005, Wisran Hadi merupakan dosen
tamu untuk mata kuliah Sejarah dan Filsafat Seni dan Penulisan Kreatif pada
Akademi Seni Kebangsaan (ASK) Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan
Malaysia di Kuala Lumpur. Ia pun merupakan dosen luar biasa pada Fak.
Sastra Universitas Andalas Padang. Ia
merupakan penulis tetap pada surat kabar Padang Ekspres, surat kabar
Singgalang dan mengasuh rubrik Surambi Adat Wisran Hadi di TVRI Sumatera
Barat. Selain menulis, melukis dan mengajar, ia juga banyak
memberikan makalah pada berbagai seminar, baik di Indonesia maupun di
Malaysia. 13 karya dramanya yang lain
diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku-buku Sastra Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI Jakarta. 7 karya dramanya telah difilmkan oleh TVRI Palembang,
TVRI Padang dan TVRI Jakarta; Empat lakon Perang Paderi, Kau Tunggu Siapa
Nilo, Cindra Mata dan Anggun Nan Tongga Wisran Hadi wafat
dalam usia 66 tahun di Lapai, Padang, Sumatera Barat, pada 28 Juni 2011,
akibat serangan jantung pukul 7.30 wib, di rumahnya jalan Gelugur, Blok H
No.2 Wisma Indah II, Padang, Sumatera Barat. (Dari Berbagai Sumber) |
Nama : Wisran Hadi Lahir : Lapai, Sumatera Barat 27 Juli 1945 Wafat : Lapai, Padang, Sumatera Barat, 28 Juni 2011 Pendidikan : ASRI International Writing Program di Iowa University, Observasi Teater Modern Amerika di USA (1978), mengikuti Observasi Teater Modern Amerika dan Jepang (1986) Karya : Dua Buah Segi Tiga (1972), Putri Cendana (drama anak-anak, 1975), Angsa-Angsa Bermahkota (drama anak-anak, 1975), (drama anak-anak, 1975) (drama anak-anak, 1975) (drama remaja, 1975), Ehm (1975), Malin Deman (1978) Perguruan (1978) Terminal (operet, 1980) (naskah randai, 1982) (naskah randai, 1982) (naskah randai, 1983) (naskah randai, 1984) Wayang Padang (2006), Presiden (2010) Penghargaan : Pemenang Harapan Ketiga Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ
untuk karyanya Gaung (1975), Seniman Teladan & Budayawan Indonesia dari Pemerintah Kota
Padang (1976), Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya
Senandung Semenanjung (1985), Pemenang Lomba Penulisan Naskah Sandiwara DKJ untuk karyanya
Cindua Mato (1997), Penghargaan sastra SEA Write Award dalam karyanya Empat
Sandiwara Orang Melayu (1991), Sastrawan terbaik Indonesia dari Departemen Pendidikan &
Kebudayaan RI (2005), Seniman Teladan & Budayawan Indonesia dari Pemerintah Kota
Padang (2005), Karya novelnya Presiden Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ
(2010) |